Minggu, 08 November 2015

" DUA EKSPRESI " Karya : Ki Slamet 42

Tepian Kali

“SAAT ATMA GUNDAH GULANA”
Karya : Ki Slamet 42

Aku curah isi batin ini  saat merenung diri
Di  sisi tepi kali Bogowonto yang sunyi sepi
Saat merona sang Surya pagi  cerah berseri
Nan bercahaya kemilau sinari Dewi Pertiwi

Kusandarkan tubuh di batang pohon tinggi
Daun di ranting sonokeling  layang ke bumi
Aus terhembusi angin sepoi-sepoi  pagi hari
Menerpa wajah sumringah senanglah di hati

Pulpen hitam di lenganku terus menari-nari
Susun kata-kata jadikan kalimat penuh arti
Tentang kejadian alam yang terus bernyanyi
Senandungkan nada-nada indah makna asri

Riak air alir Bogowonto suarakan do sol mi
Ada  ular besar jalar di belukar pinggir kali
Lalu melingkar sebentar mata nanar dekati
Mulutnya mendesis ke arahku ba’ nasehati:

“Cucu, ada tujuan apa berada di tempat ini?
Sejak malam hingga pagi  tak beranjak pergi
Bermenung saja seorang diri di tempat sepi
Tiadakah cucu sadar bahaya selalu menanti?”

Mata nanar ular dan  desisnya yang ngegirisi
Buat jantung berdebar, mengetar-getar hati
Aku baca mantra sawer ular tenangkan diri
Sebab tahu dia Ki Bogowonto penguasa kali

“Maaf  mbah, tiada tuju apa-apa aku kemari
Lain ‘tuk curahan jiwani lewat tulisan puisi
Rekam geliat alam kampung halaman sendiri
Yang sudahlah lama sekali aku tinggal pergi”

 Rupa wadaklah ular penguasa kali  berganti
Seorang tua berkumis, berjenggot putih asli
Mengenakan pakaian tradisi  ethnik Jawani
Bersapa lemah lembut penuh rasa mengasihi

“Cucuku,  melihat dari wajah lekuk di dahi
Kau pasti keturunan seorang guru mengaji
Ki Martosedono yang dahulu di Luano sini
Jika begitu, terus bermesu diri lewat puisi!”

Begitulah pesan nasehat sang penguasa kali
Ki Bogowonto yang sebentarpun sirna pergi
Hilang secara gaib tiadalah ada nampak lagi
Kemudian kulanjutkan ungkap-curah jiwani

Pulpen di jemari kembali lincah menari-nari
Berkisah tentang peristiwa alam spritualiti
Yang hingga kini  masih ngiang di mata hati
Gambaran damainya alam bahagianya jiwani

Kp. Pangarakan, Bogor
Minggu, 08 November 2015 – 08:01 WIB

"Karna Tanding"
 
“KARNA PERLAYA”
Karya : Ki Slamet 42

Alkisah dalam lelakon perang Bharata-Yudha
Antara dua satria tampan sakti mandraguna
Dua saudara satu ibu  dari Dewi Kunti boja
Karna putera Dewa Surya dari Hastina pura
Melawan Arjuna  putera Indra  dari Amarta

Surya Putera bersais kereta  sang Raja Salya
Indra Putera bersais kereta sang Sri Kresna
Keduanya bagaikan rasuk-rasuk dewa Rudra
Indahlah hiasan pakaian yang dikenakkannya
Berbinar bersinar kemilau menyilaukan mata

Saat panah-panah sakti keduanya dilepaskan
Serasa langit dan bumi ‘ba dihancurleburkan
Sudah begitu lama berlangsung pertempuran
Tapi belum ada dari mereka yang terkalahkan
Karena mereka sama sakti tinggi kemampuan

Karna dengan panah saktinya mendatangkan
Angin taufan yang dahsyat amat mengerikan
Dari panahnya keluarlah api yang berkobaran
Pasukan Amarta banyak gugur terbinasakan
Melihat ini hati Arjuna marah bukan buatan

Seketika Arjuna pun keluarkan panah ampuh
Balas serangan agar pasukan kurawa lumpuh
Panah sakti Bramastra cepat mendesing riuh
Beribu-ribu anak panah  Arjuna melesat jauh
Bunuh banyak prajurit Hastina hancur luluh

Anak-anak panah Arjuna terus bergemuruh
Panah-panah api ditawur bisa banyak bunuh
Prajurit Kurawa,  hingga wyuha jadi lumpuh
Lihat ini sekelompok resi datang bersikukuh
‘Tuk meredam perang agar sejenak berlabuh

Maka kelompok resi itu pun berikan nasehat
Kepada kedua satria yang masihlah bersiasat
“Wahai, Karna dan Arjuna yang samalah kuat
Sama-sama sakti, digjaya, dan tinggi  derajat
Hentikanlah pertempuran ini barang selewat”

Demikianlah kata-kata nasehat sang para resi
Sambil menaburkan hujan bunga warna-warni
Karna dan Arjuna akhirnya jadilah menyadari
Keduanya hentikan perang menenangkan hati
Wijayadhanu dan Bramastra tiada berulah lagi

Sementara Raja Salya sais kereta perang Karna
Dan Raja Sri Kresna sais kereta perang Arjuna
Mereka berdua, salinglah mendekatkan kereta
Dengan cekatan  keduanya saling putar kereta
Dan,  kuda-kuda mereka saling bergigitan pula

Maka terjadilah gempa tanah bongkah terbelah
Kedua badan kereta perang saling bentur arah
Gunung-gunung bersuara gemuruh berserapah
Segara lautan mengamuk limpah-ruah tirta bah
Karena Karna dan Arjuna kembali lagi berulah

Pertempuran Karna dan Arjuna kacau jadinya
Dengan kemunculan seekor naga Ardhawalika
Yang ingin bantu sang Karna,  si Surya Putera
Karena dulu  pernah berselisih dengan Arjuna
Maka, ia pun masuklah ke kepala panah Karna

Sementara itu, Karna sang putera Dewa Surya
Sesungguhnya  tidaklah tahu jika  Ardhawalika
Masuk ke dalam panahnya, yang diarahakannya
Kepada tubuh sang Arjuna putera Dewa Indra
Pusatkan tepat pada titik sasaran leher Arjuna

Dengan segera sais kereta perangnya raja Salya
Menginngatkan Karna sang putera Dewa Surya
“Arah panah anda terlalu tinggi saudara Karna
Panah itu tidak akan tepat menuju sasarannya”
Demikianlah pesan kataraja Salya kepada Karna

Mendengar itu Karna tersenyum lalu menjawab:
“Akh, tidak mungkin, lihat aku akan menyergab
Lehernya akan kena panahku, mati terjerambab
Kendalikan saja kereta perang ini dengan sigap
Wahai Raja Salya,  janganlah berpikiran pengab!”

Maka, Karna pun segera melepas panah saktinya
Yang di dalamnya bersemayam naga Ardhawalika
Sri Kresna sais ulung kereta perang sang Arjuna
Sudahlah mewaspadai akan serangan maut Karna
Maka dengan serta merta, ia injak keras kereta

Kereta perang pun, terperosok ke dalam tanah
Kedua rodanya masuk sedalam lengan setengah
Kejadian itu lah selamatkan Arjuna yang lengah
Lehernya nyaris hampir putus tertembus panah
Untung, cuma mahkota kepala yang kena panah

Hati Arjuna  betapa sangatlah dipenuhi amarah
Dibiarkannya mahkota kepala berserak di tanah
Ia rapihkan lagi rambutnya yang tergerai kaprah
Dalam sekejap mata ia memegang kembali panah
Yang kekuatan saktinya sebagai panah pemunah

Sementara Karna tiada suka sapa Ardhawalika :
“Wahai Karna perkasa sang putera Dewa Surya!
Sekali lagi, cobalah bidik dengan tenang Arjuna
Lakukan dengan konsentrasi pada lehernya saja
Agar tuan tidaklah gagal lagi tuk membunuhnya”

Mendengar semua kata-kata naga  Ardhawalika
Surya putera justru sesorah dengan angkuhnya:
“Akh......sudahlah, kau pergi saja  Ardhawalika!
Sebenarnya, aku tidaklah perlu bantuanmu, naga
Lakukan saja niatmu untuk membunuh Arjuna!”

Ardhawalika seekor naga besar itu maju ke depan
Mulutnya menganga lebar sungguhlah menakutkan
Lidahnya yang panjang bercabang dijulur-julurkan
Racunnya berbentuk bola api menyala berkobaran
Berupaya mendekati  Arjuna  yang hendak ditelan

Arjuna mengetahui naga besar yang menyerangnya
Dia, Ardhawalika yang dulu pernah dikalahkannya
Yang datang ‘tuk balas dendam atas kekalahannya
Arjuna pun telah siap untuk hadapi Ardhawalika
Maka dipanahnya naga itu sehingga tewas perlaya

Setelah naga Ardhaliwalika tewas mati dipanahnya
Ajuna teruslah maju ke depan bersama Sri kresna
Yang kendalikan kereta perang begitulah mahirnya
Sri Kresna ingatkan Arjuna agar panah Bramastra
Segera lesatkan ke  arah sang Karna Surya putera

Hal itu oleh karena Karna lupalah bacaan mantra
Berulang baca mantra tetapi tetap salah dan lupa
Hingga panah saktinya  tak mau ada di tangannya
Ditambah kereta perang yang dikendali raja Salya
Serta merta telah hancur berikut ruji-ruji rodanya

Saat itulah panah sakti Arjuna Pasupati melesat
Menggeliatlah dengan cepat, mendesing dahsyat
Tembuslah mengenai leher Karna hingga sekarat
Maka gugurlah senapati Kurawa paling terkuat
Di atas kereta perangnya yang memang tersurat

Kp. Pangarakan, Bogor
Minggu, 05 November 2015 – 21:58 WIB

Jumat, 16 Oktober 2015

“SATU MALAM DI GUNUNG BONGKOK” Karya : Ki Slamet 42


Ki Slamet 42
“SATU MALAM DI GUNUNG BONGKOK”
Karya : Ki Slamet 42

Ketika tengah malam terasa semakin mencekam
Terdengar kidung indah  rebakkan  sunyi malam
Seindah bunyinya dengungan lebah-lebah malam
Yang melayang di  atas bunga berkelopak hitam
Tuturkan sapa kata selamat dan berikan salam
Pada sang pengantin yang baru saja  tenggelam
Di tengah samudra kasmaran kebahagiaan alam

Suara ayam-ayam alas  di hutan mulai berkokok
Sang mentari pagi dibalik bukit mulai menjorok
Sadarkan pengantin baru yang masih mengorok
Tidur mendengkur di atas kasur berkain slorok
Saat bangun, tubuhpun melemah terasa rontok
Lalu kibaskan selimut bergerak duduk jongkok
Berdiri buka jendela metatap gunung Bongkok

Nampak sawah, ladang makin kering kerontang
Kulit tanahnya berbongkah tiada air tergenang
Sungai hanya berhias batu-batu yang melintang
Tak ada lagi ikan-ikan yang mau berenang riang
Burung bangau pipit tak singgah pergi terbang
Hanya ada ular  sanca, kobra, dan ular welang
Yang masih sigap mencari mangsa tuk diserang

Tak ada riak bunyi air mengalir di  Kali Sadane
Tiada kembang warna warni di tepian Cimande
Cuma bunyi kendaran besar kecil berjejer rame
Berbunyi bising di  sepanjang jalan macet antre
Di sepanjang hari, malam, pagi, siang, dan sore
Dinamikanya, geliatnya tidaklah pernah berube
Jalan Raya Ciawi-Sukabumi yang dulunya kece

Bumi Pangarakan, Bogor
Sabtu, 14 Nopember 2015 – 05:02 WIB

"PUISI-PUISI SLAMET PRIYADI": “SATU MALAM DI GUNUNG BONGKOK” Karya : Ki Slamet ...: G. Bongkok “SATU MALAM DI GUNUNG BONGKOK” Karya : Ki Slamet 42 Ketika tengah malam terasa semakin mencekam Terdengar k...

Sabtu, 10 Oktober 2015

“KAU BUAT AKU JADI GEREGETAN” Karya : Ki Slamet 42

“KAU BUAT AKU JADI GEREGETAN”
Karya :  Ki Slamet 42

Kemayumu itu,  bikin aku jadi geregetan
Gerai hitam rambut  nampak  kemilauan
Lenggok langkahmu ba' ratu kecantikan
Sem-mesemmu tiada bisalah aku lupakan

Kurasakan kepalaku putar-putar gasing
Rasakan pening bagai berkeliling-keliling
Pejamkanlah mata,  sambillah  berbaring
Tapi tak jua mau lelap malah rasa gering

Kenapakah hati, jadilah kian terpesona?
Menggeliat kuat, di hati meronta-ronta
Ingin menggapaimu, oh nan cantik jelita
Yang buat aku,  jadilah tak bisa melupa

Wahai gadis kemayu, si lincah nan jelita
Dimanakah adik engkau kini beradanya?
Lama kunanti bahkan cari kemana-mana
Tapi tiada tahu jua dimanakah rimbanya

Sampailah kini aku masih membayangkan
Lincahan kemayu yang buatku geregetan
Gelorakan selalu di getaran angan-angan
Menghentak lantak, jauh dari jangkauan

Bumi Pangarakan, Bogor
Minggu, 11 Oktober 2015 – 08:42 WIB

" JAGALAH KEBERSIHAN " Karya : Ki Slamet 42


Ki Slamet 42


“JAGALAH KEBERSIHAN”

C = Do                                         Ciptaan :
4/4 Marchia                                  Drs. Slamet Priyadi

   ____              ___   ___           ___       ___    ___
  3     4 | 5    4  6   6  6   7| 5  .  . 2   3 | 4 4   4   5   4  3  2 | 3  .  .
Yok, kawan jaga  kebersihan,    bersih   itu pangkal kesehatan
  ___                 __   ___    __   __         ___
  3   2 | 1  1    2  . |1  2   3   4   5 0  4  3  |  2   2    1   7  2 | 5 .  . 
                                                                                 .        .
Buanglah sampah  pada tempatnya jangan buang sembarangan
  ___                ___        ___             ___       ___  ___      ___   __
 3   4 | 5   4    6    6      6   7| 5 .  .  2   3  |  4  4  4   4     5   4  3  2 | 3  .  .
 Pisahkanlah macam jenisnya   sampah organik dan non  organik
   ___                   __      ____   __    __  __         ___
  3    2 |  1    1   2 .  2 |  1     2   3  4  5 0 4 3 | 2   2   1     7 2 | 1 .  . 
                                                                                                .
 Bermacam plastik sampah non organik, lain-nya sampah organik

Reffrein :
  .___  .___  .   __. .__.   __. .    ___      ___  __. ._.   ___
  1     7 | 1     7   1  7   1  2    1 | 7   2 1 0  6    6 | 6    6   6   7   1 2 1 | 7    6  5  .
 Lingkungan bersih harus s’lalu   di-jaga,   lingkungan bersih sehat jiwa dan raga
 .___  .___   .   __.   ._.   ___. .    __   __     _.  .__.  __   
 1     7 | 1     7   1    7   1   2  1 |  7      1 0  6  6 | 6  6  6  7 1  2    1| 7   2   5  .
 Lingkungan bersih  indah  dipandang mata,   sera-sa hidup ada di   alam syurga
   __      ___           ___      ___         ___   ___                ___    ____
  6  6 |  5   4   3 5 | 2   2     3   4 5 . | 6   6  5   4  3   5  |   2   2   3     2  1  . 
 Bersihkanlah hati   dengan peduli      kepada orang yang miskin dan papa
   ___    ___            __   ___        ___   ___      ___      ___   ___     
  6    6 | 5   4  3  5  2 2 | 3   4  5 . 6  6 | 5   4 3  5    3 | 2   3  1   2  1   
 Bersihkanlah pula jiwa dan raga sehat rokhaninya dan  jas – maninya


Bumi Pangarakan, Bogor
Minggu, 11 Oktober 2015 – 03:14 WIB