Minggu, 23 Agustus 2015

CATATAN PUISI BULAN AGUSTUS 2 Karya Ki Slamet 42


“SI PEREMEH ITU BERWATAK DUMEH”
Karya : Ki Slamet 42

Selorohmu seakan kau sajalah yang terpintar
Berujar kata bahwa akulah yang paling benar
Jika orang  beda dengan pikirmu yang nyasar
Maka ekspresikan amarah berkata-kata kasar

Dalam rasamu, seakan kau sajalah yang besar
Tiada banding  ‘tuk bisa sanding  dalam gelar
Kemana-mana,  kepada siapa saja  berkelakar
Segalanya dianggap remeh tak ada rasa gusar

Suka mencemooh, orang lain dianggap bodoh
Gemar meleceh, meremeh, dumeh berseloroh
Tak bisa tenang tergopoh-gopoh dan ceroboh
Berjalan tengadah tiada takut kesandung roboh

Sang Peremeh itu, memang miliki watak dumeh
Kepada orang lain selalu menganggapnya remeh
Umbyang-umbyung bersikap mencelah-menceleh
Ya,  si Peremeh memang dumeh, suka  nyeleneh

Kp. Pangarakan, Bogor
Sabtu, 22 Agustus 2015 – WIB


“SAAT RASAKAN SEPI AKU TULIS PUISI”
Karya : Ki Slamet 42

Tepat pada pukul empat empat puluh lima di pagi hari
Mobil bus Sukabumi-Pulo Gadung yang aku tumpangi
Persis berhenti di pintu gerbang tol Cawang Jagorawi
Aku pun lompat turun dari bus, lalu berjalan telusuri
Terowongan sisi gedung,  Jasa Marga yang masih sepi
Hingga sampailah di tempat dimana aku biasa menanti
Kendaraan angkutan jalur khusus Halim transportasi
Menuju  SMAN 42,  tempat aku ajar  siswa dan siswi

Sekitar lima belas menit menanti, Trans Halim datang
Maka segera akupun naik duduk di bangku belakang
Trans Halim melaju gancang sebab sepilah penumpang
Sesampai di SMAN 42, persis di depan pintu gerbang
Aku pun turun,  berjalan gontai, segera menyeberang
Terus jalan ke ruang T.U yang masih belum ada orang
Karena pegawai tata usahanya masih belumlah datang
Masih di dalam perjalanan, yang tiada pernah lengang

Setelah sidik jari, kemudian aku pun tuju ruang guru
Langsung hampiri meja kerjaku yang sudah menunggu
Aku letakkan tas di atas meja sambil duduk termangu
Kepala terasa pening, sebab kantuk gerayangi mataku
Lalu aku beranjak pergi dari situ, jalan keluar menuju
Kantin RUSPAU untuk minum kopi luak kesukaanku
Mata jadi terang, rasa pening kepala yang menganggu
lenyap sudah, segarlah kini terasa di tubuhku

Di  bawah kelebatan, dan kerindangan  pohon cheeri
Dibarengi hembusan semilir mendayu sejuk angin pagi
Sang Surya pagi pun, belum nampakkan wajah berseri
Sementara jam mengajarku mulai jam 11:20 siang hari
Maka,  kuambil pulpen yang ada di kantong saku kiri
Lalu aku tulis puisi pada secarik kertas curah isi hati

Aku tulis  ungkap  bermacam peristiwa dalam negeri
Tentang harga daging sapi yang mencuat amat tinggi
Banyaknya para pejabat,  yang terlibat kasus korupsi
Peristiwa kriminal pembunuhan anak yang begitu keji
Para pelaku pembegal motor yang tak kenal basa-basi
Merampas, merampok, bunuh korban sampailah mati






Kp. Pangarakan, Bogor
Selasa, 18 Agustus 2015 – 07:41 WIBS
 

Jumat, 21 Agustus 2015

"CATATAN PUISI BULAN AGUSTUS" Karya : Ki Slamet Priyadi


“KAU MEMANG MANIS SANGUINIS”
Karya : Ki Slamet 42

Bicara tentang diri kita tentulah banyak yang suka
Oleh sebab setiap kita punya karakter jiwa berbeda
Yang jadikan kita ‘tuk saling kenal satu dan lainnya
Saling isi berinteraksi dalam kehidupan marcapada

Kau yang manis berkepribadian sanguinis aku suka
Sebab pandailah bercakap, rangkai indah kata-kata
Meskipun memonopoli bicara dan sukalah mencela
Tapi ramahmu, riangmu, buat aku jadi jatuh cinta

Memang, terkadang bicaramu sukalah menyimpang
Terus saja bicara,tak mau henti atau pun dilarang
Yang membuat aku jadilah gamang, bahkan berang
Adalah sifat emosionalmu, yang amat terus terang

Ya sudahlah,  aku memang mencintaimu sejak dulu
Dengan apa yang ada pada dirimu, jiwamu, ragamu
Dengan  segala  kelebihanmu,  juga kekuranganmu
Terus terang,  aku suka  kepribadian  sanguinismu

Bumi Pangarakan, Bogor
Senin, 17 Agustus 2015 – 22:15 WIB



‘KITA ADALAH PSIKOFISIS”
Karya : Ki Slamet 42

Kita adalah rupa, raga dan jiwa dalam kesatuan
Kodrat manusia yang harus mendapat perhatian
Yang terus alami pertubuhan dan perkembangan
Sejak lahir bahkan saat masih dalam kandungan

Pertumbuhan adalah perubahan jasmani biologis
Seperti sang bayi yang terus tumbuh jadi dewasa
Perkembangan adalah perubahan rohaniah psikis
Seperti dari tak bisa, kemudian belajar, jadi bisa

Dalam proses pertumbuhan, dan perkembangan
Kita sangatlah miliki keperluan atau kebutuhan
Pertama, kebutuhan-kebutuhan bersifat primer
Kedua,kebutuhan-kebutuhan bersifat sekunder

Kita teramat puas jika kebutuhan itu terpenuhi
Maka kitapun berupaya keras untuk mendapati
Terjadilah proses perkembangan jasmani, rohani
Yang teruslah diikuti oleh perkembangan jiwani

 Setiap kita, memiliki sifat bawaan atau herediti
 Yang diperoleh dari lingkungan berupa ciri-ciri
Karakteristik kepribadian,  baik secara biologis
Mau pun ciri-ciri kepribadian secara psikologis

Dan, karakteriatik perkembangan biologis kita
Lebih bersifat ajeg,  tidak berubah, tetap saja
Sedang karakteristik perkembangan psikologis
Mudah berubah, pengaruh lingkungan empiris

                                  Kp. Pangarakan, Bogor       
Sabtu, 15 Agustus 2015 – 10:41 WIB
 

Sabtu, 25 Juli 2015

"CATATAN PUISI BULAN JULI TIGA" Karya Ki Slamet 42

KI SLAMET 42

“DARI MUKJIZAT SAMPAI ISTIDRAJ”
Karya: Ki Slamet 42

Mukjizat itu kekuatan luar biasa yang melekat pada Nabi
Tak bisa di cerna akal sehat sebab pemberian Ilahi Rabbi
Kepada semua utusan-utusannya sebagai pertanda bukti
Kebenaran atas kerasulannya,  yang amat suci nan murni
Yang mampu mengatasi, segala perkara aneh yang terjadi
Yang ingin rusak ajaran suci Nabi,  tentang aqidah Islami

Mukjizat tiada bisa dipelajari,  ia muncul atas seizin Ilahi
Bagai tongkat Nabi Musa kalahkan para penyihir Fir’auni
Seperti Nabi Isa hidupkan kembali orang yang telah mati
Laksana perahunya Nabi Nuh yang arungi bahtera bahari
Bagaikan Nabi Ibrahim dapat mendinginkan panasnya api
Sepertilah Nabi Muhammad dengan Al-Quran kitab suci

Karomah itu,  kekuatan luar biasa dari Tuhan Ilahi Rabbi
Yang juga, tiadalah bisa untuk dapat dicari dan dipelajari
Karena karomah adalah aji pengasih Tuhan Allahu Rabbi
Yang diberikan buat hambanya yang saleh bagai para Wali
Sebagai penghargaan atas ketaqwaannya yang amat tinggi
Dalam menjalankan perintah dan laranganNya yang hakiki

Sihir itu satu kekuatan dari syetan yang nampaknya sebat
Bertujuan, untuk wujudkan segala nafsu bejat, dan jahat
Agar terjadi kerusuhan, yang timbulkan kerusakan hebat
Sihir itu,  dapat dipelajari dengan rapal mantra kuat-kuat
Berpuasa ngalong,  ngebleng, ngepel,  pati geni, ngeruwat
Segala perilaku galat, kualat, bejat dan jahat tiada diralat

Sedangkan istidraj, adalah satu kekuatan penuh muslihat
Yang nampaknya aneh, luar biasa kuat dan terlihat hebat
Padahal Cuma tipuan hanya ada di kulit mudah mencelat
Istidraj berarti mengelabui sedikit demi sedikit ‘tuk gurat
Diberikan oleh Tuhan pada orang-orang yang kafir kualat
Sebagai ujian tipu daya, agar orang piturut berbuat jahat

Bumi Pangarakn, Bogor
Selasa, 21 Juli 2015 – 19:20 WIB

 
“MAKA, BERSERAHLAH KEPADA TUHAN YANG ESA”
Karya : Ki Slamet 42

Aku tulis puisi ini hanya untuk ungkap geliat hati
Agar bisa mereda gelegak jiwa yang tak mau henti
Yang terus saja menguak tirai sukma relung jiwani
Arungi bahtera untuk hayati arti dan makna religi
Tentang  qadha’ qadar Maha Penentu Ilahi Rabbi
Seperti yang tertera di dalam Al-Quran kitab suci

“Dan, segala sesuatu di sisi-Nya, itu pun telah ada
Hinggaannya,  qadar jangkauannya.” (Ar Ra’du : 8)
Tuhan itu telah berikan petunjuk kepada manusia
Berupa atma, pikir dan rasa, juga petunjuk agama
Agar manusia dapat membeda baik dan buruk laga
Dalam berupaya beramal baik dan tak lupa berdoa

Manusia dengan upaya sesuai takdir,  pasti berhasil
Sebab segala tingkah polah kita, hanyalah mengintil
Sebagaimana  di dalam Al-Quran telah ada ternukil
Kitab suci petunjuk sejati pabila salah itu mustahil,
“Katakanlah, tidak akan menimpa kita selain apa-apa
Yang t‘lah ditentukan Allah bagi kita.”(Al Bara’ah:51)

Kemauan keras dalam berikhtiar, tidaklah akan nihil
Asalkan tak lupa dan terus berdoa, hati jangan labil
Sebagaimana  di dalam Al-Quran, telah ada ternukil,
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan
Suatu kaum,  kecuali  setelah  mereka itu  berupaya
Mengubah  sendiri, apa-apa yang ada  pada dirinya.”
( Ar Ra’du : 11 )

Adalah tersebut istilah qadha’  qadar yang mubrom
Kepastian  ketentuan Tuhan,  yang tiada terelakkan
Seperti jodoh, rizqi, mati,umur manusia dan lain-lain
Ada pula disebut  nama, qadha’ qadar yang mu’allaq
Yang atas kuasa,  dan kehendak-Nya, Tuhan berhaq
Merubah keadaan,  atas dasar ikhtiar keras manusia

Maka,  sudah seharusnya,  kita beriman dan percaya
Kepada qadha’ qadar Allah,  seraya selalulah berdoa
Mengikuti segala perintah dan larangan-laranganNya
Sebab amal baik atau pun buruk, itu ada balasanNya
Dan,  segala peristiwa itu terjadi atas kehendak-Nya
Maka heninglah, serah diri kepada,  Tuhan Yang Esa

Bumi Pangarakan, Bogor
Selasa, 21 Juli 2015 – 11:28 WIB

 
“MAKA AKU SONGSONG REALITA”
Karya : Ki Slamet 42

Atma dan rasaku melanglang ke mana-mana
Kembara,  susup telusup ke alam dewangga
Kepakkan lebar-lebar, kedua sayap roh jiwa
Terbang jauh, tuju ke alam luar marcapada

Di alam hening jiwa memancar warna-warna
Hitam, kuning, biru, hijau dan merah Jingga
Dilambari selimut nan putih seluas jaga raya
Sukma terasa bahagia sebab duka lara sirna

Segala kenangan saling lekat bercengkerama
Bercerita tentang pernik-pernik rasa asmara
Yang tiada pernah mau lepas raib dari garba
Terus saja menggeliat bergelora dalam dada

Di ambang batas pagi pun kembali atma rasa
Terasa kesegaran resap rasuki jiwa dan raga
Sembuhkan luka di jiwa, lenyapkan problema
Songsong realita dunia nan penuh romantika

Bumi Pangarakan, Bogor
Senin, 20 Juli 2015 – 14 WIB

 
“HATI GERING KERING KERONTANG”
Karya : Ki Slamet 42

Hingga pukul dua belas, tengah malam begini
Aku masih jua belum bisa,  pejamkan mata ini
Maka,  kuambil gitar di dalam bilik kamar sepi
Aku nyanyikan kidung sunyi,  jemariku menari
Petik temali gitar lantunkan tembang memori
Lagu-lagu asmara saat masih saling mencintai

Suara gitar bersenandung kidung nan kelam
Mendayu-dayu  dibawa hembus angin malam
Menerpa tubuhku, terasa dingin mencekam
Ingatkan aku,  pada peristiwa di  masa silam
Waktu kita bernyanyi duet berdua merekam
Lagu-lagu cinta kita yang tiada bisa diredam

Nun di langit sana,  cerah terang benderang
Wajah  Sang Puteri Dewi Malam  mengayang
Ditemani  dayang-dayang,  lintang-kemintang
Sinarilah hati Pertiwi yang sedang meradang
Duka lara, sakit hati, perih, terasa sumelang
Sebab bumi, menjadi makin kering kerontang

Bukit  berwarna merah  hanya gunduk tanah
Tak ada lagi  ditumbuhi  pohon-pohon  galah
Yang dulu  jejer berderet-deret  limpah ruah
Gunung pun  letuskan magma  seperti marah
Sebab masyarakat sekitar lupalah adat polah
Budaya jaga, lingkungan alam  tumpah darah

Hingga menjelang pagi, mata tak mau kantuk
Kepalaku terantuk, hati rasa tertusuk-tusuk
Bibir bergetar bersumpah serapah mengutuk
Mengapa nasibku bisa menjadi begini buruk ?
Bagaikan bangkai,  yang sebarkan  bau busuk
Semua pergi menjauh, seraya berkasak-kusuk

Dalam kesendirian,  pikirku  gamang melayang
Tak mampu lagi untuk berpikir secara tenang
Jari jemariku pun tak bisa lagi tari bergoyang
Cuma bisa petik gitar mainkan nada sumbang
Seperti kolam,  yang tiada ikan mau berenang
Bagai hati gering,  yang kian kering kerontang

Bumi Pangaraan, Bogor
Selasa, 14 Juli 2015 - WIB