Tampilkan postingan dengan label KEJAWEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KEJAWEN. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Februari 2013

"Sangkan Paraning Dumadi" By Slamet Priyadi



Denmas Priyadi Blog│Selasa, 12 Febuari 2013│12:15 WIB 

Denmas Priyadi
UntukApa, Dari Mana, Kemana Manusia Lahir dan Hidup ?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut di atas, tentunya setiap ajaran agama mempunyai jawabannya masing-masing sebagai mana yang terdapat di dalam kitab suci agamanya, baik Islam( Al- Qur'an), Kristen(Injil), Hindu, Budha maupun ajaran Kejawen. Bagi sebagian besar masyarakat Jawa yang masih menganut Kejawen menjawab pertanyaan "Untuk apa tujuan hidup?", "Dari mana dan hendak ke mana manusia lahir dan hidup?"(Sangkan Paraning Dumadi), jawabannya tentu akan bersifat filosofis oleh karena ajaran Kejawen sendiri tidak mempunyai kitab suci yang menjadi acuan dalam menyikapi prilaku kehidupan. 

Berkait dengan Sangkan Paraning Dumadi Budayawan Jawa yang sekaligus juga seorang dalang wayang kulit terkenal, Ki Narto Sabdo dalam pergelaran wayang kulitnya mengungkapkan melalui tembang “Dhandanggulo” yang menggambarkan tentang pandangan orang Jawa mengenai awal dan akhir hidup manusia. Untuk apa manusia hidup, dari mana dan hendak ke mana manusia hidup dan dilahirkan. Berikut adalah tembangnya,

Kawruhono sejatining urip
Manungso urip ono ing dunyo
Porosasat mung mampir ngombe
Umpomo manuk mabur
Oncat sangking kurunganeki
Ngendi pencobenyang
Ywo kongsi kalirunanti
Umpomo wong lungo sanja
Njan sinanjan nora wurung mesthi mulih
Mulih mula-mulanya

Ketahuilah perihal hidup sejati manusia di dunia
Manusia hidup di dunia itu
semisal singgah hanya untuk minum
Bagai burung yang terbang lepas
tinggalkan sangkarnya
dimana nanti hinggap janganlah keliru,
semisal orang bertandang,
saling tengok toh akhirnya harus pulang,
pulang ke asal mula.


Jadi menurut pandangan Kejawen hidup manusia di alam dunia ini hanya sementara saja, singgah sebentar  hanya untuk makan dan minum. Oleh karena itu hidup di dunia yang fana ini disebut "Alam Madya" yaitu alam tengah yang terletak antara "Alam Purwa" dan "Alam Wasana". Dan hidup ini berasal dari “Alam Mulanira” yang akan kembali ke “Alam Wasana”. Jelanya, Tembang Dhandanggulo menggambarkan atau menceritakan dari mana asal manusia dan segala makhluk di dunia. Dan  segala yang ada di alam ini sesungguhnya semuanya itu ada yang mengadakan, dan menciptakan yaitu Sang Maha Pencipta Alam Semesta, Tuhan Yang Maha Agung. Itulah “Asalmula”, dan itu pula tujuan akhir dari semua yan ada. 

Penulis
Slamet Priyadi di Pangarakan - Bogor

Rabu, 06 Februari 2013

Ajaran Sabda Palon by Slamet Priyadi


Denmas Priyadi Blog | Kamis, 07 Febuari 2013 | 11:45 WIB
SABDA PALON merupakan sebuah "KITAB KUNO" yang berisi ajaran-ajaran moral untuk mencapai MANUSIA SEJATI. Adapun untuk untuk mencapai hal tersebut manusia harus mengamalkan JANJI GANTHARWA yaitu:

1.MENGUTAMAKANKEMANUNGGALANDALAM GANTHARWA
   Dalam hal ini manusia harus selalu mengingat Tuhan, selalu mempunyai keinginan untuk menyatu dengan Tuhan, menyatu dengan sifat-sifat Tuhan yang maha pengasih, maha bijaksana sehingga prilakunya akan mencerminkan sifat-sifat Tuhan, penuh kasih,adil, jujur, bijaksana, tidak tamak, tidak serakah, tidak sombong dan lain-lain. Manunggal dengan sifat-sifat Tuhan ALLAH yang berwujud manunggal atau menyatu pula prilakunya itu dengan sesama makhluk hidup, manusia, khewan dan alam.

2. MENINGKATKAN KAWRUH DAN LAKU
    Dalam hal ini tak ada istilah kata "berhenti" dalam "belajar" karena dalam pandangan orang yang telah mencapai tahapan ini "orang yang pintar adalah orang yang terus menerus mau belajar" dan kemudian mengamalkan, mempraktekkan segala sesuatu yang sudah didapatkan dalam belajarnya itu untuk kebaikan terhadap sesama, tanpa pamrih penuh dengan keikhlasan dalam melakoninya.

3. TEKUN DAN SETIA
    Artinya orang yang telah mencapai tahapan ini akan mempunyai sikap yang kosisten dan berkomitmen tinggi dengan apa yang sudah dimilikinya dan diyakininya. mempunyai dedikasi dan loyalitas yang tinggi dalam mengamalkan yang semata-mata hanya untuk keikhlasan dan keridhoan dari Tuhan ALLAH.

Apabila manusia sudah dapat mencapai dan melakoni ke tiga JANJI GANTHARWA tersebut maka di dalam dirinya, di dalam jiwanya akan bersemayam kuat moralitas jiwa yang SUGIH TANPA BONDO, SAKTI TANPA AJI, NGLURUK TANPA BOLO, MENANG TANPA PEPERANGAN, APA YANG DIINGINKAN DAN SEGALA APA YANG DIKEHENDAKINYA AKAN SEGERA TERWUJUD.

Penulis
Slamet Priyadi

Sedikit Tentang Kejawen by Slamet Priyadi


Denmas Priyadi Blog | Kamis, 07 Febuari | 11:15 WIB
KEJAWEN adalah kebudayaan Jawa asli yang merupakan sinkretisme antara kepercayaan kuno dengan ajaran agama yang datang kemudian seperti Hindu, Budha, Islam, dan Kristen. Diantara campuran tersebut yang paling dominan adalah ajaran agama Islam. Membahas masalah Kejawen tentunya tidak terlepas dengan istilah-istilah Manunggaling Kawulo Gusti, Sedulur Papat Lima Pancer, Sangkan Paraning Dumadi, ngeruwat, tapa brata, dan lain-lain.

Drs Susilo menyimpulkan tentang Kejawen adalah sebagai berikut:

* Kejawen adalah sinkretisme yaitu percampuran agama Hindu-Budha- Islam. Meskipun demikian ajaran Kejawen masih mengacu dan berpegang teguh pada ajaran tradisi Jawa asli sehingga masih nampak ciri-cirinya yang khas dan kemandiriannya.

* Agama menurut faham Kejawen adalah Manunggaling Kawula Gusti yaitu bersatunya hamba dengan Tuhan. Oleh sebagian kalangan Islam putih kaum santri, konsep penyatuan manusia dengan Tuhan ini mengarah kepada penyekutuan Tuhan atau prilaku Syirik.

* Perspektif ajaran Kejawen berdimensi tasauf percampuran antara kebudayaan Jawa, Hindu, dan Budha yang kurang menghargai aspek syariat dalam arti yang berkait denngan hukum-hukum hakiki agama Islam.

* Raja adalah pemuka agama. Hal ini nampak dari penggunaan atau pemakaian gelar "Sayidina Panatagama", "Khalifatullah", "Ajaran agama ageming aji" ( perhiasan ) raja, karena itu harus disesuaikan dengantradisi Jawa.

* Kitab Mahabarata dan Ramayana merupakan sumber inspirasi ajaran Kejawen yang mengandung ajaran moral dan karakter prilaku tuntunan hidup.

* Tinjauan kajian pikiran Jawa lebih terfokus pada aspek indra batin dan prilaku batin. Strategi pendekatan Kejawen adalah mencari pendekatan kepada Tuhan bahkan selalu ingin menyatu dengan Tuhan
(Manunggaling Kawula Gusti) dan analisanya bersifat batiniah.

Penulis
Slamet Priyadi