Tampilkan postingan dengan label PERISTIWA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PERISTIWA. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Maret 2015

Guntur Menjelegur Lidah Petir Menjulur Karya Slamet Priyadi





GUNTUR MENJELEGUR  LIDAH PETIR MENJULUR
Karya: Slamet Priyadi

Gema nan keras gelegar pertala itu usik marcapada
Tegur keras  alam saksikan sikap perilaku manusia
Yang tak lagi berunggah-ungguh kedepankan etika
Hanya  mengumbar nafsu  syahwat,  nafsu angkara

Yang  digugu  dan  ditiru pun lenyapkan rasa malu
Yang digdaya sakti dan kuasa cengkeramkan kuku
Pancanakanyapun membenam semakin mendalam
Menusuk jantung masyarakat kecil bernasib kelam

Molekul-molekul kecil itu bergerak kian melemah
Hanya bisa melangkah gontai, lunglai terasa lelah
Kalah, kalah,  lagi-lagi kalah, dan terus saja kalah
Sebab selalu ditekan, diancam haruslah mengalah

Jegur bunyi guntur, lidah petir menjulur bawa bala
Mangsa  segala  angkara  murka lewat mala petaka
                                          Banjir, tanah longsor, gempa bumi yang kianmelanda
Hancurkan, musnahkan segala yang ada di marcapada

Alam kini telah murka tak mau lagi diperdaya manusia
Tamak, serakah, birahi tiada terkendali, penuh angkara
    Yang jauh  dari  sifat  jujur dan adil, jauh dari sifat utama   
Pemarah tak mau kalah,  seperti sifatnya  Rahwana Raja

Bumi Pangarakan, Bogor
minggu, 08 Maret 2015 - 10:56 WIB
 

"SAJAK PUISI SLAMET PRIYADI": Guntur Menjelegur Lidah Petir Menjulur Karya Slame...: Lidah petir menjulur GUNTUR MENJELEGUR   LIDAH PETIR MENJULUR Karya: Slamet Priyadi Gema nan keras gelegar per...

Kamis, 05 Februari 2015

“PERISTIWA SEPULANG KERJA” By Slamet Priyadi

Ular kobra di selokan (Foto: SP)
Ular kobra menjalar di selokan

“PERISTIWA SEPULANG KERJA”
By Slamet Priyadi

Saat pulang kerja pada hari Senin, tanggal dua bulan Febuari
Tepat pada pukul lima tiga puluh lima sore jelang petang hari
persis di muka rumahku Kp Pangarakan daerah Bogor Ciawi
Saat Matahari Senja benamkan diri sembunyi di balik Pertiwi
Motor ojek langganan yang biasa aku tumpangi pun berhenti

Kuambil uang limaribuan dari saku baju kemeja seragam biru
Lalu  kuberikan pada ojek langganan yang tersipu malu-malu
Akupun masuklah  ke dalam rumah duduk di bangku bambu
Sambil reguk seteguk kopi hangat yang baru dibuatkan istriku
Aku lepas segala lelah segarkan kepenatan yang mengganggu

Baru sepuluh menit nikmati kopi hangat, aku dengar dan lihat
Di depan rumah orang-orang pada berteriak pating mencelat,
“Aya oray tanah, aya oray kobra, hayu paehan, hayu paehan!”
Aku segera lari lompat ke luar rumah turut ikutan melihat-lihat
Hand phoneku yang ada di lopa ikat pinggang aku pegang kuat

Dalam selokan yang berair keruh ular hitam kencang  menjalar
Terus dikejar dipukuli, dipentungi, digetoki dengan kayu galar
Ular kobra tanah besar tak berdaya sakit menggelepar-gelepar
Menoba bersembunyi di balik batu besar tubuhnya melingkar
Tetapi akhirnya ular itu terkapar kepalanya pecah kemepyar

Kamis, 05 Februari 2015-21:21 WIB
Slamet Priyadi
Di Kp. Pangarakan, Bogor

Jumat, 23 Januari 2015

SAAT PUKUL TIGA TIGA PULUH PAGI By Slamet Priyadi

Image Orang Gila by Slamet Priyadi (Foto: SP)
Image Orang Gila by Slamet Priyadi
Orang gila tu berkemeja lengan pendek, bercelana Jean robek
Berambut keritinguil penuh debu, bertubuh kurus dan pendek
Bermata cekung,  berkumis  kecokelatan dan berhidung pesek
   Terus berjalan mundar-mandir sambil meludah di tanah becek    

Sudah  tiga belas kali aku melihat  orang gila itu  sliwar-sliwir
Berjalan bungkuk di jalan penuh genangan air yang mengalir
Saat hujan rintik-rintik  menjelang pukul tiga, tiga puluh pagi
Persis di  depan gapura SPN Lido Jalan Raya Ciawi-Sukabumi

Sambil menanti-nantikan Bus jurusan Pulo Gadung-Sukabumi
 Yang akan aku tumpangi untuk berangkat kerja tugas profesi
Aku terus perhatikan  orang gila itu yang menoleh ke arahku
Tak kunyana ia menghampiriku  seraya berkata dengan lugu

“Akang, boleh saya minta udutnya barang sebatang saja, kang!”
Aku ambil bungkus rokok di saku yang masih berisi lima batang
Lalu  aku  berikan kepadanya, nampak ia merasa begitu senang
Sementara Bus yang aku nanti-natikan lama belum juga datang

Orang gila itu berkata lagi kepadaku  sambil tunjukan jari lima
“Akang beri aku rokok lima batang itu punya makna lho, kang”
Dengar jawaban  seperti itu aku heran, lalu bertanya padanya
“Wah, sama sekali tidak ada itu, memangnya kenapa, Mang?”

“Begini kang, satu itu jujur, sabar, dan kasih pada semua orang
Dua  berarti  perasa,  pengiba, penyayang tapi juga pemberang
Tiga itu  penuh angkara,  penuh nafsu tapi berjiwa terus terang
Empat berarti  cepat, giat, periang dan suka bersenang-senang
Lima itu suka berdalih, tak mau mengalah, gemar mengarang”

Dengar semua  penuturan  tentang  sifat-sifat kebanyakan orang
Dari sosok orang yang katanya gila itu hatiku pun jadi meradang
Gilakah dia, sedengkah dia, gendengkah dia, ataukah pura-pura?
Lalu aku bertanya, “Mang berkata begitu sumbernya dari mana?

Sungguh  tak kunyana, tak kuduga, dan  tak kusangka, jawabnya,  
Hanya, ha haha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha
Aku jadi merinding,  bulu romaku bergidik,  untung saja Bus tiba
Aku segera melompat ke dalam Bus untuk hindari itu orang gila

Jumat, 23 Januari 2015—21:19 WIB
Slamet Priyadi
Di Kp. Pangarakan, Bogor

Minggu, 04 Januari 2015

"OJO DUMEH!": PERISTIWA ANEH DI KP. PANGARAKAN BOGOR

ImageTuyul bergajul 


Kp. Pangarakan, Bogor
TUYUL BERGAJUL DI KP. PANGARAKAN ?
Karya Slamet Priyadi

Kampung Pangarakan kini sudah tak aman berjaya
Bukan  karena  perang  antar  suku,  ras dan agama
Bukanlah  pula  perang  antar warga  penyebabnya
Bukanlah  pula  karena  pencurian yang meraja lela
Tapi karena  seringnya uang  hilang entah ke mana
Hilang lenyap raib  penuh  misteri  jadi tanda tanya

Peristiwa  dan kejadian  seperti ini  berulang terjadi
Dialami  oleh  para  tetangga  terutama  aku  sendiri
Anehnya  uang  yang  hilang  kisaran  seratus ribuan
Baik di dompet, bawah kasur atau di lemari pakaian
Menyulut  pertengkaran  antar saudara saling curiga
Bahkan suami-istri saling tuduh tak ada juntrungnya

Suatu ketika, aku ambil uang gaji di Bank DKI Cililitan
Jumlah  uang  gaji  itu  benar  berjumlah  lima jutaan
Sudah kulihat sendiri pada mesin yang diperlihatkan
Oleh kasir bank DKI yang bersikap ramah dan sopan
Dan sudah kuhitung ulang pula untuk membuktikan
Kebenaran,ketepatan jumlah uang yang diserahkan

Setiba  di rumah  aku  hitung kembali uang gaji di tas
Sungguh aku heran bukan kepalang hatiku was-was
Uang  itu berkurang jadi empat juta lapan ratus  pas
Peristiwa sama  dialami  pula tetangga depan rumah
Yang berkisah akan keheranannya peristiwa kaprah
Yang terjadi di Kp. Pangarakan dan Kampung Sawah

Ketika  di rumah adakan acara sunat masal bersama
Oleh Perhimpunan Dokter RS Cipta Mangunkusuma
Dan Perkumpulan Alumni SD  Sabda  Palon Jakarta
Kejadian  uang  hilang secara  gaib kembali berulang
Ada tiga orang  dokter yang  merasa  uangnya hilang
Padahal ada di  dalam dompet yang masih dipegang
Dokter-dokter  itu seperti  mengalami peristiwa aneh
Uang yang di dompet sebanyak dua ratus ribu rupiah
Raib secara misterius lenyap dalam waktu bersamaan
Lalu bertanya kepada istriku dengan rasa  keheranan:
“Bu, apa di daerah ini ada orang yang pelihara tuyul?”
Jawab istriku: “Itu mungkin  saja, bu dokter! 
uang gaji  suami  saya, juga sering raib
setiba di rumah ditarik tuyul bergajul!”

Minggu, 04 Januari 2015—12:37 WIB
Slamet Priyadi di Pangarakan, Bogor

Semak belukar sarang ular
Anak ular masuk rumah 1
Anak ular masuk rumah 2
Anak ular masuk rumah 3

SEMAK BELUKAR ITU SARANG ULAR
Karya Slamet Priyadi

Hujan rinai yang  terus-menerus  sirami  bumi pangarakan
Tumbuh-segarkan  segala  tanaman  yang  ada di  halaman
Rumput gajah dan tapak liman merah tumbuh berserakan
Jambu  kelutuk, jeruk limau, bluntas, dan dondongg  jaran
Jikalau kita  bisalah  mengolahnya,  dibuat  jadikan ramuan
Adalah obat penurun darah, koreng, batuk, dan bau badan

Sementara  tanah  di  samping rumah tumbuh  semak belukar
Gumuk Ilalang  semakin membesar menyebar jadi sarang ular
Kobra, sanca  menjalar, ular hijau di  batang bluntas melingkar
Di batang pohon mangga dua tokek jantan sedang bertengkar
Bertarung rebutkan tokek betina yang lari bersembunyi di akar
Menanti sang tokek jantan pemenang untuk hening berkelakar

Suatu ketika cucuku buka tas tempat mainan yang ada di lantai
Tidak dinyana  di dalamnya  ada ular kobra  kecil ke luar  lalu lari
Menggeliat-geliat di lantai kemudian sembunyi di bawah lemari
Secepatnya  kuangkat  kugendong cucuku letakkan di atas kursi
Tak mau  ambil resiko, kuambil seciduk air panas dari dispenceri
Lalu kusiramkan  seciduk air panas itu ke ular kobra sampai mati

Suatu ketika di  dapur ada ular hijau ditumpukan kacang panjang
Yang  akan  dibuat sayur tumis kacang dan kembang paya lanang
Untung  saja  istriku  lihat jelas ular itu yang  bergerak bergoyang
Istriku kaget menjerit-jerit minta  tolong  akupun  segera datang
Cepat kuambil  pedang  yang  tergantung  di  dinding sisi  wayang
Lalu kutebas leher  ular hijau itu hingga nyawanya pun melayang 

Suatu ketika saat menantuku hendak  pergi mandi di siang bolong
Tiba-tiba, ia berteriak-teriak, menjerit-jerit  keras meminta tolong
Di  kamar mandi  ular kobra  besar  melingkar  di kran air rempong
Segera  aku siram dengan air panas, ular melesat ke sudut gorong
Kusiram lagi ular itu dengan air panas sampai kulitnya mengelupas
Sebab minggu  yang lalu  tetanggaku juga digigit ular hingga tewas  

Belum lama ini sekitar sebulan yang lalu pun ada tiga ekor anak ular
Masuk kamar mandi  lewat saluran air yang lupa ditutup batu besar
Ketiga  anak ular kobra itu terus  merayap  perlahan-lahan menjalar
Menantuku yang  satu lagi yang berani dan tidak takut  dengan ular
Tangkap ketiga anak ular satu-satu, lalu dimasukkan ke toples besar
ketiga anak ular pun disiram dengan air panas sampai mati terkapar

Sabtu, 03 Januari 2015 – 13:48 WIB
Slamet Priyadi di Pangaraka, Bogor
 

"OJO DUMEH!": PERISTIWA ANEH DI KP. PANGARAKAN BOGOR: Orang tua temani anaknya dlm Sunat masal di Kp. Pangarakan TUYUL BERGAJUL DI PANGARAKAN Karya Slamet Priyadi Kampung Panga...