Tampilkan postingan dengan label Wayang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wayang. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Februari 2013

Analisa Lakon Dewa Ruci



Penulis: Slamet Priyadi│Denmas Priyadi Blog│Selasa,12 Febuari 2013│21:10 WIB


Dewa Ruci
LAKON Dewa Ruci dalam kisah pewayangan merupakan salah satu cerita karangan para pujangga Islam yang lebih dikenal dengan sebutan Wali Sanga. Dalam buku, De Heiligen van Java, halaman 150 yang ditulis oleh Dr. D.A. Rinkes, dinyatakan  bahwa, “Sunan Kalijaga mengarang lakon-lakon wayang baru, dan menyelenggarakan pertunjukan-pertunjukan wayang dengan upah baginya sebagai dalang berupa Kalimat Syahadat. 

Berkait dengan hal tersebut di atas, Prof. Adnan dalam kata sambutannya pada acara penyerahan rumah-rumah bagi para dosen IAIN Demangan, Yogyakarta pada tanggal 14 Juli 1962 menyatakan :  
“Masyarakat kita bangsa Indonesia (Jawa) masih gemar sekali kesenian wayang, mulai zaman dahulu hingga sekarang, baik di desa maupun dikota. Oleh karena itu Wali Sanga memperhatikan hal tersebut untuk keperluan memasukkan da’wah Islamiyah”.
  
Dalam lakon Dewa Ruci yang religius itu dikisahkan, upaya dan tekad keras Bima atau Arya Sena yang ingin mendapatkan air suci kehidupan, “Tirta Perwita Sari.”  Berbagai macam percobaan dan tantangan serta godaan yang sangat berat dihadapi Bima, akan tetapi Bima pada akhirnya mampu mengatasinya dan Bima berhasil menemukan dan mendapatkan  air suci Tirta Perwita Sari yang berujud Dewa Ruci yang bukan lain adalah dirinya sendiri.  Lakon Dewa Ruci mengandung makna filsafat tentang tasauf Islam yang sangat mendalam oleh karena menggambarkan seorang kesatriya dengan kemauan spiritualitas yang keras untuk mencari jalan yang sebaik-baiknya agar bisa membawa manusia kepada kebahagiaan yang kekal dan abadi di Syurga.

Siapakah Dewa Ruci sebenarnya?  Dewa Ruci berarti Dewa yang halus dan lembut, adalah dewa dari Bima atau Arya Sena yang merupakan perwujudan dari pribadinya sendiri yang sesungguhnya.  Dikisahkan ketika Bima berguru kepada guru Dorna tentang ilmu kemanusian dan belajar tentang kesempurnaan hidup sejati ketika bertemu dengan Dewa Ruci. Ia diperintahkan agar masuk ke raganya, akan tetapi Bima berkata:

“Apakah cukup jika aku masuk ke dalam raga kamu yang begitu kecil?”
“Ha ha ha… jangankan hanya sebesar badanmu, dunia dan segala macam isinya ini dapat masuk ke dalam ragaku!” demikian jawab Dewa Ruci sambil tertawa terbahak-bahak. Ini sebagai gambaran atau symbol bahwa kejiwaan manusia lebih luas dari dunia seisinya.

Dalam bentuk wujudnya Dewa Ruci digambarkan bermata bulat, hidung dempak, berambut gimbal terkembang, berkuku “Panco Noko”, berkain kotak-kotak segi empat, dan bersepatu ciri seorang dewa. Bentuk tubuh dan raut muka sama persis dengan Bima hanya lebih kecil. 

Sudah kita ketahui bahwa cerita wayang tentang Dewa Ruci adalah karangan pujangga Islam penyebar agama Islam di Jawa era pemerintahan kerajaan Islam Demak, oleh karena itu analisa cerita wayang Dewa Ruci berkait erat dengan ajaran Islam.  Analisa berikut adalah saya kutip dari buku “Unsur Islam Dalam Pewayangan” karangan Drs. H. Effendi Zarkasi dari pendapat Ki Siswo harsoyo dalam buku “Guna Cara Agama.”  Berikut adalah kutipannya:

1.    Di dalam cerita Dewa Ruci, Bima atau Arya Sena berguru kepada Guru Dorna yaitu orang yang dianggap bisa memberi petunjuk yang  benar, berilmu tinggi secara spiritual. Memiliki ilmu tinggi baik keduniawian maupun kerokhanianya, orang yang alim.
  
Analisa :
Bagi orang yang ingin mendalami agama (arti tauhid), dia harus berguru kepada  orang yang dianggap alim (berilmu dan berakhlak baik) minta petunjuk jalan (thariq).  Jelasnya meminta wejangan tentang ilmu thariqat.  Meskipun seorang guru terkadang ada juga yang menyesatkan, akan tetapi karena Bima berpendapat kuat bahwa guru adalah sosok yang jujur, berilmu, beriman dan berakhlak baik, maka apa yang dikatakan gurunya selalu dipatuhinya, sebagaimana kata ulama yang berbunyi demikian: 
“Tangan (kekuasaan) Allah itu mengendalikan mulut cendikiawan, tidak akan dia mengucap, kecuali hanya kebenaran dari Allah”.  (Al Ghazali, Ihyaa ‘Ulumuddin, Jilid III halaman 26.)

2.    Setelah bertemu dengan guru Dorna, Bima mengutarakan keinginannya untuk mencari Tirta Perwita Sari, air suci untuk  kesucian hidup manusia.  Oleh gurunya Bima disarankan agar membongkar gunung Reksamuka.

Analisa :
Orang yang akan berguru ilmu thariqat tidak akan bisa diterima sebelum terlebih dahulu melepaskan segala keinginan dan nafsu keduniawian dari dirinya, hatinya harus dibersihkan terlebih dahulu. Ini memang sesuatu yang sangat berat untuk dijalani seperti beratnya membongkar gunung.  Memang untuk sampai ke ilmu thariqat itu harus melalui jalan terjal, berliku-liku, bermacam-macam godaan dan tantangan yang penuh dengan kesukaran-kesukaran.(Reksamuka = rumeksa ing gelar, benteng hidup keduniawian).  Pekerjaan ini memang berat, sebab  dia harus  menjauhi keduniawian yang menjadi hiasan manusia.  Sebagaimana Firman Tuhan :

“Telah dihiasi manusia dengan kesukaan-kesukaan kepada barang yang diingini, yaitu wanita-wanita dan anak-anak, (perhiasan) emas dan perak yang bertumpuk-tumpuk, kuda (kendaraan) yang bagus, binatang ternak, sawah lading, yang demikian itu perhiasan di dunia, tetapi di sisi Allah ada tempat kembali yang baik”. (Al-Qur’an, S. Ali Imran: 14)
3.        Bima mematuhi petunjuk gurunya, lalu pergi untuk membongkar gunung Reksamuka.

Analisa : 
Setelah orang yang berguru telah diberi petunjuk, harus taat dan patuh untuk menjalani dan mengerjakannya dengan penuh keikhlasan betapapun berat dan sukar, meskipun harus meninggalkan keduniaan yang dicintainya.

4.    Setibanya di gunung Reksamuka Bima terus mengobrak-abrik, menghancurkan segala makhluk jahat yang ada di gununug tersebut.  Terjadilah pertempuran antara Bima Arya Sena dengan dua makhluk raksasa penghuni gunung Reksamuka yaitu, Rukmuka dan Rukmakala.

Analisa :
Orang yang sedang berusaha mensucikan diri harus mampu memerangi dan mengalahkan segala macam godaan keduniaan.  Raksasa Rukmuka merupakan gambaran pancaindra yang apabila tidak berhati-hati selalu saja membawa manusia kepada kesesatan.  Sedangkan Raksasa Rukmakala adalah gambaran akal budi yang juga sering menyesarkan manusia.  Dia harus mampu mengalahkan godaan hawa nafsu jahat agar dapat mencapai kebahagiaan.  Firman Tuhan mengatakan : 

“Adapun orang yang takut akan kebesaran Tuhannya dan orang yang dapat mencegah hawa nafsunya, Syorgalah tempatnya”. (Al-Qur’an, S. An-Naziaat: 40-41)

5.        Dalam pertempuran itu Bima Sena dapat menumpas kedua raksasa Rukmuka dan Rukmakala.

Analisa :
Bahwa bagi orang yang telah mampu menundukkan dan mengendalikan hawa nafsunya maka akan selamatlah dia, sebagaimana Firman Tuhan :

“Dan Allah selamatkan mereka yang berbakti dengan sebab terluput mereka (yakni tidak disentuh oleh kejelekan), dan tidaklah mereka akan duka cita”. (Al-Qur’an, S. Azzumar: 61)

Referensi :
Unsur Islam Dalam Pewayangan, Drs. H. Effendi Zarkasi

Penulis:
Slamet Priyadi di Pangarakan-Bogor

Sabtu, 09 Februari 2013

Arjuna Larikan Dewi Wara Sumbadra



Slamet Priyadi | Sabtu, 09 Febuari 2013 | 15:37 WIB

Arjuna dan Dewi Wara Sumbadra
DENMAS PRIYADI BLOG – Kasus kawin lari yang biasanya terjadi pada sepasang remaja yang sedang dilanda kasmaran, dan kisah cintanya tidak direstui oleh orang tua atau keluarganya, rupanya bukan saja terjadi pada kisah klasik Qais dan Laila ataupun Romeo dan Juliet akan tetapi juga terdapat dalam cerita pewayangan yang usianyapun sudah berabad-abad itu.

Dalam cerita pewayangan, kasus kawin lari  dilakukan oleh Arjuna ketika hendak mempersunting Dewi Wara Sumbadra, adik dari Raja Dwaraka Prabu Betara Kresna dan Prabu Baladewa di Mandura. Beginilah ceritanya!  

Diceritakan, Arjuna menjalani hukuman selama sepuluh tahun dan hidup di hutan, Arjuna sekali waktu berkunjung ke Kerajaan Mandura yang pada saat itu diperintah oleh Raja Dwaraka, Prabu Betara Kresna dan kakaknya Prabu Baladewa. Kunjungan Arjuna ini diterima dengan perasaan senang dan penuh kesukacitaan oleh Prabu Betara Kresna. Pada saat yang bersamaan kebetulan sedang ada keramaian yaitu berupa hajatan besar di gunung Raitawaka.  Para pembesar kerajaan yang diundangpun banyak yang hadir di sana, termasuk Prabu Betara Kresna, Prabu Baladewa dan adiknya Dewi Wara Sumbadra serta  Kesatriya Penengah Pandawa Raden Arjuna yang diajaknya pula.  Ketika itu Arjuna yang memang sedikit mata keranjang melirik, menatap takjub ke wajah Dewi Wara Sumbadra yang begitu cantik serta berpenampilan anggun sekali.  Ditatap seperti itu oleh Sang Arjuna, Dewi Wara Sumbadra yang memang sebelumnya sudah tertarik dengan kegagahan dan ketampanan Arjuna menjadi tersipu malu, dan  hatinya berdegup kencang, berdebar-debar.

Melihat dan menyaksikan kejadian ini Sang Betara Kresna tersenyum saja karena sesungguhnya ia sudah mengetahui kalau Arjuna sangat tertarik pada adiknya, Dewi Wara Sumbadra. Tak lama kemudian diutarakanlah kepada Arjuna bahwa adiknya hanya bisa dikawinkan dengan kesatriya yang tangguh dan mumpuni yang bisa diandalkan untuk melindungi adiknya dan bangsa Yudawa pada umumnya.

Mendengar penuturan Betara Kresna  Arjuna sangat senang karena hal tersebut berarti dirinya memenuhi syarat untuk menjadi suami Dewi Wara Sumbadra, kemudian Arjuna mengutarakan isi hatinya yang ingin mempersunting Dewi Wara Sumbadra itu kepada Betara Kresna. Atas persetujuan Betara Kresna, maka diaturlah rencana secara diam-diam tanpa sepengetahuan Prabu Baladewa untuk melarikan Dewi Wara Sumbadra sepulang dari hajat besar di gunung Raitawaka saat mengendarai kereta berkuda. 

Pendek cerita, pada waktu dan tempat yang sudah direncanakan dan ditentukan antara Arjuna dan Betara Kresna, di tengah perjalanan yang cukup sunyi, secara tiba-tiba Arjuna melarikan Dewi Wara Sumbadra. Kereta yang dinaiki Dewi Wara Sumbadra dilarikannya dengan kencang sekali. Hal tersebut telah membuat para pengiring dan para pengawal  terkejut kaget oleh karena tak menyangka kalau itu dilakukan oleh seorang kesatriya semacam Arjuna.

Melihat dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri tingkah polah  Arjuna itu, bangsa Yudawa dan Prabu Baladewa teramat berang, dan segera memerintahkan kepada para pengawalnya untuk mengejar kereta yang dilarikan oleh Arjuna tersebut sampai dapat dan Arjuna harus dihukum untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. 

Betara Kresna yang memang pengatur dan perencana proses penculikan itu, dan sudah mengenal betul dengan watak kakaknya, Prabu Baladewa yang pemarah dan berangasan segera berupaya meredam kemarahan Prabu Baladewa,

“Kanda Prabu Baladewa! Bangsa Yudawa memang sangat terinjak-injak martabatnya atas tingkah polah Arjuna itu, dan kita pasti tidak akan tinggal diam jika melihat anak, adik perempuannya, serta saudara, dan keluarganya sampai diperlakukan secara tidak hormat serta direndahkan martabatnya seperti ini.  Akan tetapi bukankah dinda Wara Sumbadra sendiripun menyukai Arjuna dan menginginkan seseorang yang berwatak kesatriya, tampan dan  gagah perkasa seperti Arjuna, dan itu berarti sama pula dengan apa yang kita inginkan bersama untuk jodoh dinda Wara Sumbadra. Sudah berulang kali kita mengadakan sayembara, akan tetapi setiap saat kita akan mengadakan sayembara tersebut, saat itu pula mendapat rintangan dan kegagalan.  Baru kali inilah ada yang berani dan Arjuna telah mengingatkan kita, apabila Arjuna bukanlah kesatriya yang kita idam-idamkan bersama, mana mungkin dia berani melakukannya kepada kita”. Mendengar penuturan dari rayinya, Prabu Betara Kresna yang cukup beralasan dan memang ada benarnya, amarah  Prabu Baladewa menjadi redup dan menyetujui dengan apa  yang sudah diutarakan oleh rayinya itu.

Singkat cerita, akhirnya Arjuna dipanggil kembali oleh Prabu Betara Kresna dan Prabu Baladewa untuk dikawinkan dengan adiknya Dewi Wara Sumbadra. Setelah mereka dikawinkan, Arjuna tinggal di negeri Dwaraka hidup bahagia bersama istrinya Dewi Wara Sumbadra yang sangat dicintainya itu. Dari perkawinannya dengan Dewi Wara Sumbadra itu Arjuna dikaruniai seorang anak yang diberi nama Raden Abimanyu.

Pustaka
Wayang dan Karakter Manusia, Sri Guritno – Purnomo Soimun HP – Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata – Jakarta 2002

Penulis
Slamet Priyadi di Pangarakan - Bogor

Jumat, 08 Februari 2013

Berdirinya Kerajaan Indraprasta



DENMAS PRIYADI BLOG | SABTU, 09 FEBUARI 2013 | 08:10 WIB
Pandawalima
Diceritakanlah ketika  Dewa Agni yang menyamar sebagai brahmana meminta bantuan kepada Sri Kresna dan Arjuna yang pada saat itu sedang asyik mengobrol sambil menikmati indahnya panorama alam di tepian sungai Yamuna. Adapun bantuan yang diinginkan oleh Dewa Agni kepada Sri Kresna dan Arjuna adalah membakar hutan Kandawa yang dilindungi oleh Batara Indra. Karena menurut petunjuk yang diperolehnya setelah bersamadi memohon petunjuk pada Hyang Brahma, bahwa yang bisa menolong Dewa Agni untuk membakar hutan Kandawa untuk mencari sejenis tumbuh-tumbuhan bernama Latamausadi yang terdapat di hutan tersebut, adalah Narayana dan Nara yang telah menjelma kepada Sri Kresna dan Arjuna.

            “Wahai sang Nara dan Narayana yang sakti mandraguna, terus terang saya sangat membutuhkan pertolongan tuan-tuan untuk mendapatkan Latamausadi di hutan Kandawa, oleh karena menurut petunjuk Sang Batara Brahma, hanya tuan berdualah yang sanggup membantu saya untuk membakar hutan Kandawa yang dilindungi oleh Batara Indra itu!” Pinta Batara Agni kepada Arjuna dan Sri Kresna.

Mendengar penuturan yang penuh harap dari Dewa Agni, akhirnya Arjuna dan Sri Kresna mengabulkan permintaan Dewa Agni. Tak lama kemudian, dengan bantuan dan perlindungan dari Arjuna dan Sri Kresna, Dewa Agni membakar hutan Kandawa sampai luluh lantak, habis terbakar semua dalam waktu tidak lebih dari satu setengah bulan. Menurut cerita hanya tersisa enam penghuni hutan yang selamat dari amukan dan kesaktian senjata Arjuna dan Sri Kresna mereka adalahdi, raksasa Maya, Aswasena, dan empat ekor burung Sarngaka.
 
            “Wahai tuan-tuan sang Nara dan Narayana yang sakti mandraguna, tuan-tuan telah banyak menolong saya, berbuat sesuatu untuk membantu saya mendapatkan Latamausadi. Tanpa bantuan tuan-tuan berdua tentu saya tak bisa membakar hutan Kandawa yang sedemikian luas, dan tidak mungkin berhasil mendapatkan Latamausadi, oleh karena itu mintalah kepadaku, apa saja yang tuan-tuan inginkan sebagai balas budi saya kepada tuan-tuan?!”  kata Dewa Agni kepada Arjuna dan Sri Kresna dengan sungguh-sungguh.

            “Baiklah!  Arjuna Menjawab, “Jika demikian, berikanlah kepada kami berdua semua senjata sakti yang dimiliki Batara Indra!”

Dewa Agni menyanggupi dan mengabulkan permintaan Arjuna sambil berkata, 

            “Kalian berdua adalah harimau di antara manusia. Ke mana saja kalian pergi, kalian akan seperti harimau!” Dewa Agni pun menghilang dari pandangan Arjuna dan Sri Kresna.   

Selanjutnya Arjuna dan Sri Kresna melanjutkan perjalanannya, hanya raksasa Maya yang diajaknya serta menemani pengembaraannya. Ketika sampai di tepi sungai Yamuna yang elok nan permai itu, mereka beristirahat untuk melepaskan lelah. Pada saat itu raksasa Maya sambil membungkuk berkata kepada Arjuna, 

            “Tuanku Arjuna, karena tuan telah menyelamatkan hamba dari panasnya amukan api di hutan Kandawa, maka katalah kepada hamba, apa yang tuan inginkan dari hamba?”

            “Sudahlah, Maya! Jangan kamu pikirkan itu, sekarang kamu bebas untuk pergi sesuka hatimu, akan tetapi ingatlah! Kamu harus bersikap baik dan ramah kepada semua orang”. Jawab Arjuna kepada raksasa Maya.

            “Tuanku Arjuna, katakanlah sekali lagi! Apa yang tuan inginkan dari hamba, terus terang hamba ini orang yang ahli dalam hal bangunan”. Desak raksasa Maya kepada Arjuna.

            “Maya, terus terang aku sama sekali tidak mengharapkan balas budi apapun darimu. Perkataanmu bahwa aku telah menyelamatkanmu, itu sudahlah cukup. Akan tetapi jika engkau mendesak tentu aku tidak akan menolak, sekarang tanyakanlah kepada kanda Sri Kresna!” Arjuna mengulangi pernyataanya kepada raksasa Maya.

Mendengar ini Sri Kresna tak menyia-nyiakan kesempatan ini, segera ia menghampiri raksasa Maya kemudian berkata sambil berbisik di telinga Maya, 

            “Bagunlah sebuah istana yang megah dan indah di Indraprasta ini, yang kemegahannya dan keindahannya tidak ada yang menyamai dan di seantero muka bumi ini”.
 
Raksasa Maya yang memang ahli dalam membuat bangunan, dengan segala kesaktiannya segera membangun sebuah istana yang indah dan megah di Indraprasta. Dalam waktu satu tahun dua bulan, di Indraprasta telah berdiri sebuah istana kerajaan yang begitu indah dan megah yang keindahan dan kemegahannya tidak ada yang menyamai bahkan tidak kalah keindahannya dengan istana para dewa-dewa sekalipun. Untuk merayakan upacara penyerahan istana kerajaan Indraprasta, Sri Kresna menyarankan kepada ke Lima Pandawa  agar terlebih dahulu menaklukkan kerajaan-kerajaan yang dahulunya acapkali jenindas dan menjajah negeri-negeri lain yang berada di sekitar Indraprasta. Ke lima tokoh Pandawa menerima saran Sri Kresna, maka merekapun saling berbagi tugas, Yudistira menjadi raja di Indraprasta, Bima menaklukkan negeri-negeri yang berada di sebelah Timur, Arjuna menanklukkan negeri-negeri yang berada di sebelah Utara, Nakula menaklukka negeri-negeri yang berada di sebelah Barat, Sadewa menaklukkan negeri-negeri yang berada di sebelah Selatan.

Setelah berhasil menaklukkan negeri-negeri yang berada di daerah sekitar Indraprasta, ke lima tokoh Pandawa bersama Sri Kresna mengadakan upacara syukuran dan selamatan untuk memuliakan kraton Indraprasta dengan rajanya yaitu Yudistira putera tertua dari Pandawa Lima. Banyak dari para raja-raja sekitar yang hadir pada perayaan upacara berdirinya kerajaan Indraprasta yang indah dan megah tersebut, tek terkecuali raja dari para Kurawa negeri Astina, Prabu Duryudana dan patih Sangkuni. Mereka rata-rata semuanya berdecak kagum akan keindahan dan kemegahan Indraprasta. (Referensi: Sri Guritno-Purnomo Soimun HP, “Karakter Tokoh Pewayangan Mahabarata”. Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata - JAKARTA 2002)

Penulis
Slamet Priyadi

“WAYANG KULIT BETAWI” By Slamet Priyadi


DENMAS PRIYADI BLOG | MINGGU, 09 FEBUARI 2013 | 06:50 WIB
Pentas Wayang Kulit
SEKITAR tahun tujuhpuluhan ketika saya masih remaja, saya pernah menonton pergelaran wayang kulit di daerah Lubang Buaya, Jakarta Timur. Pada waktu itu saya belum mengetahui kalau kesenian wayang yang saya tonton tersebut adalah Wayang Kulit Betawi, karena setahu saya pada waktu itu wayang adalah bentuk kesenian masyarakat jawa, terutama Jawa Tengah, tempat saya berasal. Hal ini baru saya ketahui kemudian bahwa wayang yang saya saksikan tersebut Wayang Betawi setelah saya menikmati pergelaran wayang kulit tersebut sampai selesai.  Ternyata wayang yang saya tonton tersebut berbahasa Indonesia dengan disana-sini dihiasi dengan dialek khas Jakarta, penuh humor dan sedikit dialog penuh canda antara dalang dan para nayaga. 

Wayang Kulit Betawi yang saya saksikan tersebut dimainkan oleh seorang dalang yang pada waktu itu namanya sudah cukup dikenal oleh masyarakat setempat bernama, Bonang. Dari pengalaman tersebut di atas telah menggelitik saya untuk mengetahui lebih jauh tentang kesenian Wayang Kulit Betawi.
Wayang Kulit Betawi adalah suatu pertunjukan wayang yang menggunakan boneka-boneka terbuat dari kulit kerbau dan penerapan permainan pertunjukannya masih secara Jawa.  Diiringi seperangkat musik gamelan dengan gendang pencak menjadi musik yang dominan dalam mengiringi gerak wayang disertai tembang-tembang Sunda yang mendayu-dayu dinyanyikan oleh para pesinden.

Dalam pertunjukan Wayang Kulit Betawi sama dengan pertunjukan wayang  Jawa, dalang menggunakan sekotak wayang kulit dan delapan orang pemain musik gamelan yang berperan sebagai pengiring pertunjukan wayang.

Di wilayah Lubang Buaya, Cijantung,  Pasar Rebo, dan sekitarnya, Dalang Bonang merupakan satu-satunya dalang yang permainan wayangnya melebihi dalang-dalang lain seangkatannya, konon bahkan dia melebihi  gurunya sendiri, Pak Misan yang terlebih dahulu mengundurkan diri sebagai dalang Wayang Kulit Betawi.

Wayang Kulit Betawi termasuk salah satu bentuk kesenian tradisional daerah Jakarta yang sampai sekarang masih digemari masyarakat setempat.  Hal ini terbukti pada setiap pertunjukan di daerah-daerah sekitar Jakarta selalu ada partisipasi penonton, terlihat dari adanya dialog antara dalang dan penonton, dalang dan salah satu  pemain gamelan. Mereka saling sahut-menyahut dengan dialog “nguda rasa”(bicara dengan diri sendiri).
 
Musik pengiring Wayang Kulit Betawi adalah seperangkat gamelan yang terdiri kromong 10 nada, Demung 7 nada, 2 saron dengan 5 nada, dua ketuk, satu kempul dan satu gong.  Sebagai pembawa melodi lagu adalah instrument rebab atau bisa juga oleh pesinden. Adapun musiknya berlaras Slendro. Sumber cerita Wayang Kulit Betawi bermacam-macam, bisa dari cerita rakyat seperti si Jampang, dari cerita komik, atau dari cerita wayang yang sudah ada maupun cerita karangan. [Referensi : Pertumbuhan Seni Pertunjukan – Prof. Dr. Edi Sedyawati]       

Penulis
Slamet Priyadi