Minggu, 10 Maret 2013

Komponis Orlando Di Lasso (1532 – 1594) By Slamet Priyadi



Denmas Priyadi Blog | Minggu, 10 Maret 2013 | 10:30 WIB

ORLANDO DI LASSO (1532 - 1594)
ORLANDO DI LASSO yang dikenal juga dengan nama Rolandde Lattre atau Oelandus Lassus dilahirkan tahun 1532 di negei Belgia, negeri yang juga banyak melahirkan para komponis terkenal seperti Cesar Franck, juga para keturunan Beethoven. 

Orlando di Lasso tidak hanya dikenal di negeri Belanda sebelah selatan, tetapi juga di Italia, Perancis dan Jerman. Orlando di Lasso dalam memapaki karirnya pertama kali menjadi seorang penyanyi kor di tempat kelahirannya di Bergen Henegouwen. Pada usia dua belas tahun, oleh karena kebagusan suaranya itu ia direkrut untuk menjadi anggota pada kelompok kor pemuda Ferdinan Gonzana di Milano.                                                                                                              
Pada usia delapan belas tahun, Ia pergi ke Napoli dan di sana bakat dan karirnya semakin berkembang. Dalam tahun 1553 Ia dipercaya menjadi seorang pemimpin kor dan dirigen. Beberapa tahun kemudian Ia dipanggil Albertus ke V ke Muenchen untuk menjadi pengelola musik istana yang memang di istana Albertus ke V ini musik mendapat tempat dan apresiasi yang sangat besar. 
     
Di istana ini Orlando di Lasso banyak menulis karya musik, salah satu diantaranya yang terkenal adalah "Mazmur Tebus Dosa". Raja Perancis Karel IX meminta Ia datang ke Paris dan memanggilnya dengan sebutan "Le plus que divin Orland". Di sini Ia banyak menulis komposisi musik untuk tarian-tarian balet istana, Grand Opera dan lain-lain. Pada tahun 1574 Ia kembali Muenchen dan tinggal di sana sampai akhir khayatnya di tahun 1594.

Penulis :
Slamet Priyadi di Pangarakan - Bogor
                         

Selasa, 05 Maret 2013

Sang Maestro Komponis Pahlawan Nasional Asal Betawi “Ismail Marzuki” (1914-1958)



Denmas Priyadi Blog | Sabtu, 20 Oktober 2013 | 12:25 WIB

Ismail Marzuki
SANG MAESTRO, komponis, pejuang legendaris ‘Ismail Marzuki’ berasal dari kampung Kwitang, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat yang dilahirkan pada tanggal 11 Mei 1914. Ketika usianya baru beranjak tiga bulan, ia sudah ditinggalkan ibunya yang meninggal karena sakit. Kakak perempuanya, Hamidah kemudian merawat Ismail Marzuki hingga dewasa. Ayahnya bernama Marzuki oleh karena itu ia lebih dikenal dengan nama Ismail Marzuki.  Di masa kecil oleh teman-teman sekampungnya dan rekan sesama seniman ia akrab dipanggil Ma’il, Ma’ing, atau bang Maing. Ismail Marzuki merupakan anak bungsu. saudara kandungnya adalah Hamidah, Yusuf, dan Yakub. Kedua kakaknya Yusuf dan Yakub meninggal saat dilahirkan. Oleh karena itu sebagai  satu-satunya pria dalam keluarganya, ia menjadi tumpuan dan harapan ayahnya. Apa lagi ayahnya, ‘Marzuki’ sangat terpukul dengan kematian istrinya yang sangat dicintainya itu.

Sebagaimana orang Betawi yang sangat memperhatikan dan mengutamakan pendidikan agama Islam, oleh ayahnya Ismail Marzuki disekolahkan ke Madrasah ‘Uhwanul Fallah’ di Kwitang milik ulama terkemuka, Habib Ali Al Habsyi. Dari pendidikan agama yang didapatnya itu, sangat berpengaruh besar dalam pembentukan karakter Ismail Marzuki baik dalam pengetahuan agamanya maupun dalam sikap dan prilakunya dalam pergaulan. Ia dapat menguasai Al-Qur’an dengan baik, berbudi pekerti dan berakhlak terpuji serta menjadi panutan teman-temannya atar seniman.

Karya-karya Ismail Marzuki memiliki karakter yang jelas, konfiguratif. Tematik karya-karya musik dan lagu-lagunyanya kebanyakan bernuansa religi, himne, dan hiburan, serta bersifat patriotistik, heroik. Hal inilah yang telah mampu menggelorakan semangat juang dan perngorbanan bangsa Indonesia di era revolusi perang kemerdekaan. Ismail Marzuki merupakan salah seorang komponis muda yang paling produktif di zamannya, dan debut musiknya dimulai pada usia 17 tahun. Berikut adalah karya-karya Ismail Marzuki:

1. Oh Sarinah, tahun 1931. Lagu yang menceritakan tentang kondisi bangsa Indonesia yang tertindas
2.  Keroncong Serenata, tahun 1935.
3. Roselani, tahun 1936. Lagu yang menggambarkan suasana romantis alam Hawai di  Samudra Pasifik
4.  Kasim Baba, tahun 1937. Lagu  yang berlatar belakang Hikayat 1001 malam.
5.  Keroncong Sejati, Bermodus minor dan bernafaskan melodi yang melankolis.
6.  Pulau Suweba
7.  Di Tepi Laut
8. Duduk Termenung

    Ketiga buah lagu, Pulau Suweba, Ditepi Laut, dan Duduk Termenung, dibuat tahun 1938. Dibuat khusus untuk ilustrasi film “Terang Bulan” yang dibintangi Miss Rukiah, Kartolo, dan Raden Muchtar. Dalam film ini, Ismail, bersama teman-temannya berperan sebagai pemain music sebagai pelengkap scenario film. Ternyata film Terang Bulan ini berhasil menarik ribuan penonton hingga negeri jiran, Malaysia pun turut memutarnya. Dalam film ini suara Ismail Marzuki dipakai untuk mengisi suara Raden Muchtar  saat acting bernyanyi di film tersebut.

7. Als de Orchiedeen Bloeien, dan Als’t Meis is in de Tropen. Dua buah lagu berbahasa Belanda yang dibuat tahun 1939.
8.  Bapak Kromo
9.  Bandaneira
10. Oh Le le di Kuta Raja
11. Rindu Malam
12. Lengang Bandung
13. Melancong ke Bali
14. Dan masih banyak, bahkan ratusan lagi lagu-lagu yang lain yang tak bisa penulis tulis satu per satu di tulkisan ini.
Di era penjajahan Jepang, dimana rakyat Indonesia mengalami kesengsaraan yang begitu sangat mengenaskan, pemuda Ismail Marzuki mampu menggugah rasa cinta tanah air dan bangsa melalui karya-karyanya yang patriotistik, dan heroestik seperti; Mars Gagah Perwira, Karangan Bunga dari Selatan, Tanah Pusaka, Nyiur Melambai, Di bawah Rumpun Bambu, dan Rayuan Pulau Kelapa. Berkat karya-karya tersebut, Ismail Marzuki mendapat anugerah Piagam Wijayakusumah dari Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno atas nama pemerintah RI tahun 1961.

Pada masa revolusi kemerdekaan, pemuda Ismail Marzuki turut berjuang ke medan tempur melalui lagu-lagu ciptaannya yang menggugah semangat heroik para pejuang ke seluruh penjuru Nusantara. Lagu “Halo-halo Bandung”, “Pahlawan Merdeka”, “Selamat Datang Pahlawan Muda”, “Kopral Jono”, “Sersan Mayorku”, “Gugur Bunga”, “Selendang Sutra”, “Sepasang Mata Bola”, “Sapu Tangan Dari Bandung Selatan” adalah lagu-lagu ciptaan Ismail Marzuki yang sampai sekarang tetap berkumandang dan acap kali dinyanyikan baik dalam upacara bendera di berbagai instansi sekolah maupun pada even-even tertentu.

Sang Maestro, Komponis besar yang sekaligus pejuang legendaris, dan pahlawan nasional asal Betawi ini memang sangat mencintai kota Bandung bagian Selatan karena selain keindahan alamnya yang begitu asri dan estetik, juga kota tersebut telah melahirkan  seorang mojang (gadis) Priyangan yang telah memikat hatinya, yaitu Eulis Zuraidah binti M. Empi yang kemudian diperistrinya dengan penuh cinta. Kecintaan Ismail Marzuki terhadap kota Bandung dan istrinya Eulis Zuraidah, bisa disimak dari lagu-lagunya seperti;

 “Bandung Selatan di Waktu Malam, “Sapu Tangan dari Bandung Selatan, “Karangan Bunga dari Selatan, “Juwita Malam”, “Sabda Alam”.  

Dalam berkarya Ismail Marzuki termasuk seniman yang produktif dan imajinatif. Dalam hidupnya yang relative singkat itu, lebih kurang 200 buah lagu telah diciptakannya. Lagu terakhir ciptaannya sebelum ia wafat adalah “Inikah Bahagia”.

Sampai sekarang lagu-lagu ciptaan Ismail Marzuki tetap abadi dan berkumandang terus di masyarakat. Dalam dinamika pasang surutnya perkembangan musik Indonesia nama Ismail Marzuki putra Betawi asal kampung Kwitang ini, tertulis dan terukir begitu indahnya yang menghiasi lembaran sejarah permusikan Indonesia. Dia sangat produktif dan imajinatif dalam berkarya, sangat mahir dalam menyusun kata-kata, yang sangat puitis, estetis, dan sastraistis sehingga karya-karyanya banyak mendapat apresiasi tinggi dalam masyarakat. Simak saja salah satu lagu ciptaan Ismail Marzuki berikut,

“SABDA ALAM”

Diciptakan alam pria dan wanita
Dua makhluk dalam asuhan dewata
Ditakdirkan bahwa pria berkuasa
Adapun wanita lemah lembut manja

Wanita dijajah pria sejak dulu
Dijadikan perhiasan sangkar madu
Namun ada kala pria tak berdaya
Tekuk lutut di sudut kerling wanita

Ya, Ismail Marzuki memang seorang komponis besar Indonesia yang telah mengharumkan nama bangsa dan Negara di kancah nasional maupun internasional lewat bidang seni musik. Ia wafat pada tanggal 25 Mei 1958 dalam usia 44 tahun kerena sakit yang menderanya. Jenazahnya dimakam  di TPU Karet Bivak. Ismail Marzuki meninggalkan seorang istri terkasih Eulis Zuraidah yang meninggal dunia pada tanggal 8 Agustus 2001 di Jakarta, dimakamkan di sebelah makam Ismail Marzuki.

Berkat jasa-jasanya mengharumkan nama bangsa dan negara, berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 089/TK/Tahun2004, ia mendapat penghargaan dan penghormatan yang tinggi sebagai Pahlawan Nasional pada tanggal 5 Nopember 2004.

Referensi:
Brosur Lomba Paduan Suara lagu-lagu Karya Pahlawan Nasional Ismail Marzuki Se JABOTABEK 2008 – Kerja Sama Lembaga Kebudayaan Betawi dan Dikmenti DKI Jakarta

Penulis:
Slamet Priyadi

Senin, 04 Maret 2013

Puisi Puisi Karya Slamet Priyadi


Slamet Priyadi

Gelegar Pertala
Denmas Priyadi Blog│Selasa, 05 Maret 2013│06:30 WIB

Geram gelegar pertala usik marcapada
Saksikan prilaku dan ulah manusia
Yang tak lagi berunggah-ungguh kedepankan etika
Sana sini hanya umbar syahwat
Nafsu angkaranya pun kian menggeliat

Yang digugu dan ditiru lenyapkan rasa malu
Yang digdaya dan kuasa cengkeramkan kuku
Pancanakanya pun kian menghujam
Membenam semakin dalam
Menusuk jantung dan merobek selimut social
Masyarakat kecil yang kian melemah, gontai dan lunglai
Tiada berdaya…
Ya, yang tak lagi punya daya dan upaya

Slamet Priyadi
Kp. Pangarakan-Bogor 

Pituah Segumpal Asap Rokok
Denmas Priyadi Blog│Jumat, 28 Desember 2012│09:30 WIB

Selepas tidur suntuk semalam, di pagi cerah ini, aku minum secangkir kopi
Terasa dada ini menghangat meski sedikit menyengat
Sambil menghisap sebatang rokok, aku tatap jendela rumah
Nampak bingkai kayunya mulai rapuh-ruah
Pikirku pun jadi menerawang ya, begitulah aku sekarang
Semakin tua usia lekang, semakin merenta tulang-tulang

Kembali aku hisap rokok yang ada di jemariku
Asapnya mengepul-ngepul kelabu, berputar-putar di depan mataku
Melayang-layang di telinga seperti berbisik dan berkata-kata,
"Usia tuan semakin lanjut dan berkurang, apa yang sudah tuan persiapkan dari sekarang
 ‘tuk bekal tuju ke Maniloka alam kelanggengan"
Segera aku matikan rokok di jemari melangkah gontai dan lunglai
Menuju ke kamar mandi 'tuk bersuci bersihkan semua kotoran dalam diri
Tuhan, dosa-dosaku semakin merebak, hingga kini pun belum jua terkuak
Aku jauh dari-MU, dan semakin jauh dari-MU, gerakkanlah hati hamba-MU,
Berikanlah kasih-MU, berikanlah rahmat-MU agar aku dekat, dan kembali ke jalan-MU
Amieeen......

Slamet Priyadi
Kp. Pangarakan-Bogor 

Carmuka
Denmas  Priyadi Blog│Senin, 17 Desember 2012│07:16 WIB
                                                     
Adalah sudah merupakan kebiasaan kebanyakan orang-orang kita
Suka dan gemar sekali cari muka
Sana-sini mencaci, sini-sana memuja
Di depan menjilat-jilat lidahnya pintar bersilat
Ketika kepentingannya tak didapat, dia pun melompat ba’ kutu loncat
Janji ‘tuk loyal prasetia, dengan puji dan puja lupalah semua
Kesetiaan yang tersisa hanya kepentingan semata

Di belakang menista tiada henti cari kesalahan di sana-sini
Di depan menjilat-jilat menyosorkan diri
Dengan alibi demokrasi bicaranya ceplas-ceplos tanpa isi, tanpa basa-basi
Asalkan senanglah di hati
Yakh, begitulah memang prilaku diri
Si Carmuka yang suka cari muka di sana dan di sini

Slamet Priyadi
Kp. Pangarakan-Bogor 


Kau Tak Pernah Mau Sirna
Denmas Priyadi Blog│09 Desember 1978│08:45 WIB

Sudah tiga puluh satu warsa sejak taqdir pisahkan kita
Bayang-bayangmu Lutfia,  masih jua tak pernah mau sirna
Dari benakku, bahkan dari jiwaku, dan segala rasa ini semakin menyiksaku

Segala daya, segala upaya telah aku coba
Memecah cermin kalbu, mengoyak tabir rindu, melepas rantai belenggu
Bahkan  aku kepakkan sayap terbang kembara ke alam dewangga ‘tuk lupakan segala lara
Namun, kau masih jua tak pernah mau sirna dari benakku, dari kalbuku
Dan kenangan itu, serta gelora rasa ini, bahkan selalu mendera hari-hariku
Menteror jiwaku di setiap waktu

Slamet Priyadi
Kp. Pangarakan-Bogor 

Sajak Dari Bukit Parigi
Denmas Priyadi Blog│Minggu, 16 Des. 2012│09:25 WIB

Meniti jalan setapak di kaki bukit Parigi
Saat cahaya Mentari pagi menelusup celah-celah daun bambu
Di simpang kelok jalan bertugu batu
Nampak dua ekor anjing berpadu satu saling ungkapkan hasrat nafsu
Merasa terganggu atas kehadiranku
Keduanya menyalak keras ke arahku seakan protes dan berkata
“Wahai manusia, kami bukan sepertimu yang memiliki etika dan rasa malu
Jadi, silahkan lewati jalan ini, dan angan ganggu kenikmatan kami”
Kemudian  aku pun berlalu

Melewati gundukan semak-semak jalan setapak
Di balik rimbunnya daun bambu dan pohon salak
Nampak di sana, dua ekor kera jantan dan betina sedang ungkapkan hasrat senggama
Merasa terganggu atas kehadiranku, keduanya, dengan wajah galak mata terbelalak
Menatap garang ke arahku seakan protes dan berkata,
“Wahai manusia kami bukan sepertimu yang memiliki etika dan rasa malu
Jadi, lewati jalan ini dan jangan ganggu kenikmatan kami”
Kemudian akupun segera berlalu

Tak terasa waktu berganti, Surya pagisemakin meninggi
Aku terus melangkah meniti jalan setapak di kaki bukit Parigi
Melewati kebun yang buahnya mulai ranum
Melewati pematang sawah yang padinya mulai menguning
Dua wanita jelita menyapa dengan tingkah menggoda yang mengundang hasrat jiwa
“Wahai tuan kami tahu, tentu tuan seperti yang lain
Mampirlah di kedai kami, di sini ada kopi kehangatan
Sesuai dengan selera dan rasa yang tuan inginkan”
Dan akupun terus berlalu

Ketika peluh membasahi seluruh tubuh
Ketika rasa lelah mulai mengeluh
Aku putuskan untuk henti berjalan
Rehat, istirahat kembali segarkan badan
Segera aku hampiri kedai di ujung jalan
Pesan secangkir kopi dan setatakan gorengan
Dengan lemah gemulai dan kemayu
Perempuan kedai itu buatkan kopi pesananku
Sambil tawarkan hasrat tak malu-malu
“Wahai tuan, tadi ada tiga orang dari kota sama seperti tuan
Dan, sekarang pun masih di dalam biasa tuan, cari belai-belai kehangatan
Apakah tuan juga berkeinginan sama seperti mereka?”
Ucap perempuan itu sambil tertawa cekikikan
Tiada kata-kata terucapkan segera aku bayar secangkir kopi dan gorengan
 “Benar-benar tak punya etika dan rasa malu”
Aku menggerundel, dan segera berlalu dari kedai itu

Slamet Priyadi
Kp. Pangarakan-Bogor 

Pesan Pejuang
Denmas Priyadi Blog | Sabtu, 10 November 2012 | 11:35 WIB

Telah aku wariskan Sang Saka
Merah Putih pusaka bangsa
Dari medan laga darah pun telah tertumpah
Korbankan nyawa Ikhlas dan rela

Telah aku wariskan Sang Rajawali
Garuda perkasa nan perwira
 Dari medan juang Jiwa pun telah perlaya
Korbankan jiwa Demi bangsa merdeka

Wahai kaum muda pewaris bangsa
 Jaga, jagalah dan camkanlah
 Janganlah sampai Pusaka bangsa sirna
Luka, robek, pecah terkoyak , Penuh luka dan mati
Dan, Pancasila jadikanlah pemersatu bangsamu
Bangsa Indonesia yang harus tetap lestari nan jaya
Di persada bumi Nusantara

Slamet Priyadi
Kp. Pangarakan-Bogor 

Sang Rajawali Garuda
Denmas Priyadi Blog | Minggu, 23 0ktober 2011| 01:30 WIB

Kau Rajawali, Garudaku…
Digjaya, perkasa nan gagah perwira
Terbang melayang di angkasa raya
Mengepak sayap menguak jagad
Sekuat, sekeras kilat pertala
Gelegarkan gema Pancasila
Gaungkan  ke Marcapada

Kau Rajawali, Garudaku...
Kini tak gagah dan perkasa lagi
Bintangmu nyaris tak berlima segi
Bantengmu seakan tak bertaji
Beringinmu tak rimbun kini
Padi kapasmu  tiada bersemi
Dan, Rantai satu pengikat
Pun kian rompal berselimut karat
Menanggung beban yang kian sarat 

Kau Rajawali, Garudaku...
Hayo, keluarkanlah daya saktimu
Terbanglah tinggi-tinggi
Angkatlah bebanmu kuakkan mega-mega
Untuk menembus angkasa
Kepakkanlah sayap Pancasila seluas jagad raya
Agar dunia tahu bahwa kita masih perkasa
Ya, masih perkasa

Slamet Priyadi
Kp. Pangarakan-Bogor 

Minggu, 03 Maret 2013

Belajar Itu Seni Untuk Mengembangkan diri


Slamet Priyadi | Minggu, 14/01/2013 | 02:20:30’WIB
Sayyid Quthb - Salah seorang ulama besar Islam
Sayyid Quthb
SELASA, 15 JANUARI 2013 - DENMAS PRIYADI SITE - Jika anda pernah membaca buku Ma’alim fit ath-Tharik, tulisan Sayyid Quthb yang terkenal itu, pasti anda pun akan berdecak kagum. Dalam bukunya beliau memaparkan kepada kita tentang bagaimana kehebatan, keluarbiasaan prilaku belajar dari para generasi sahabat Nabi Muhammad Rasulullah SAW. Sehingga dengan kehebatan dan keluarbiasaannya dalam prilaku belajar itu, mereka generasi pertama Islam mampu melakukan pembaharuan-pembaharuan dalam kemajuan peradaban dunia.  Dalam bukunya itu Sayyid Quthb lebit lanjut mengatakan, 
“Kehebatan generasi sahabat bukan semata-mata karena di sana ada Rasulullah, sebab jika ini jawabannya berarti Islam tidak rahmatan lil’alamin. Kehebatan mereka terletak pada semangat mereka untuk belajar lalu secara maksimal berupaya mengamalkannya”.
Nah jika demikian, ini artinya prilaku proses belajar yang kita lakukan tidak berhenti hanya pada mempelajari sesuatu saja,  melainkan harus dibarengi pula dengan praktiknya, belajar untuk mengaplikasikannya. Dengan begitu kita memperoleh jawaban atas adanya fakta social yang kontradiktif antara pengetahuan yang dimiliki dengan sketsa pikir dan sikap prilaku dalam keseharian kita.
Dari generasi pertama Islam, generasi sahabat Rasulullah yang sangat mengedepankan prilaku belajar itu telah memberikan pandangan kepada kita tentang “learning how to think”, belajar bagaimana untuk memahami. Mereka sangat haus akan pengetahuan, dan semangat mereka untuk mempelajari sesuatu dan belajar tentang sesuatu tidak mengenal kata selesai. Ya, belajar itu sepanjang hayat. Selain itu, mereka juga memberi contoh teladan kepada kita agar “learning how to do”, belajar bagaimana untuk melakukan dan mempraktikkan ilmu yang sudah didapat dalam prilaku belajar dalam keseharian kita secara nyata. Dan, semuanya itu harus pula   dilambari dengan prilaku religius. Artinya, dari apa pun yang sudah kita pelajari harus mampu menjadi acuan dalam berpikir, berprilaku dan bersikap dalam keseharian kita. (transfer of learning)
Referensi
Dwi Budiyanto. 2009. “Prophetic Learning”. Yogyakarta: Pro-U Media.
Penulis
Slamet Priyadi