Selasa, 07 Mei 2013

Dongeng Burung Emprit dan Burung Tinggalanak Bag.2 Karya Slamet Priyadi diceritakan Oleh Kak Sita

Denmas Priyadi Blog | Rabu, 08 Mei 2013 | 11:36 WIB

Burung Emprit
Di atas dahan dengan daun-daun yang didapat di sekitar pohon yang mereka singgahi, mereka buat sarang untuk tempat tinggal mereka yang baru. Burung Mesir lalu membelai kedua anaknya dengan penuh rasa kasih sayang. Dalam hatinya berkata, “Oh, anakku hampir saja jiwamu melayang menyusul ayahmu. Untunglah ada pamanmu di sini yang bisa membantu dan menolong kita. Mudah-mudahan saja dia akan betah tinggal di sini menemani kita selamanya”. 

Ketika burung Mesir masih dalam lamunannya, burung emprit menyapanya perlahan, “Wahai Tinggalanak, apa yang sedang kau pikirkan? Aku melihatmu seperti dalam kebingungan. Apa ada yang mengganjal pikiranmu terkait dengan kebradaanku di sini?

Sedikit terperanjat burung Mesir menjawab pertanyaan burung emprit, “Oh, tidak...tidak... aku hanya berpikir bagaimana jika tidak ada engkau di sini, mungkin kami bertiga sudah mati menjadi santapan ular hijau kecokelatan yang buas dan sangat berbisa itu. Dan karena nya aku mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas segala pertolonganmu kepada kami”.

“Akh, saya pikir itu memang sudah seharusnya kita saling tolong menolong, bantu membantu dalam segala hal. Malah justru aku yang seharusnya banyak berterimakasih kepadamu, Tinggalanak. Aku tak bisa membayangkan, bagaimana jadinya jika aku tak berjumpa denganmu di negeri Mesir yang sama sekali masih asing bagiku ini”. Sudahlah, Tinggalanak! Kita tak perlu larut dalam pembicaraan yang tidak penting itu. Pokoknya kita sama-sama tahu sajalah. Yang penting sekarang adalah bagaimana kita mencari jalan keluar agar kita bisa terhindar dari ancaman dan mara bahaya yang disetiap saat bisa mengancam keselamatan kita dan anak-anakmu”. Demikian burung emprit berkata kepada burung Mesir. Nampaknya mereka dari waktu ke waktu sudah semakin akrab saja.

Pada satu kesempatan, burung emprit mengungkapkan hasratnya untuk mempersunting burung Mesir dan mengajak burung Mesir untuk ikut serta bersamanya kembali ke negeri Jawa Dwipa di kepulauan Nusantara, “Tinggalanak, aku ingin berterus terang kepadamu bahwa sesungguhnya aku sangat mencintaimu, dan berkeinginan sekali untuk mempersuntingmu menjadiistriku. Apakah engkau mau menerima lamaranku ini?” Demikian pernyataan isi hati burung emprit diungkapkan dengan secara terus terang dan terbuka kepada Tinggalanak, burung Mesir yang sudah memiliki dua orang anak yang masih kecil-kecil itu.

Mendengar pernyataan dan pertanyaan yang begitu  cepat dan terus terang tanpa tedeng aling-aling serta tidak diduga-duga dari burung emprit Jawa, burung Mesir menjadi terperangah, betul-betul pernyataan itu membuat kaget dirinya. Meski pun di dalam hatinya  sesungguhnya ia sangat gembira dan bahagia sekali mendengarnya. Burung Mesir masih terdiam membisu dan menundukkan kepalanya belum menjawab pertanyaan burung emprit. Sampai akhirnya pertanyaan kedua diajukan lagi oleh burung emprit Jawa,

“Bagaimana dengan pertanyaanku tadi Tinggalanak? Apakah kau mau menjadi istriku? Jika kau setuju, maka aku akan mengajakmu pergi ke kampung halamanku Negeri Jawa Dwipa di Nusantara. Negeri yang teramat elok nan permai dengan hutan dan rimba belantara  yang membentang luas, tanah persawahan dengan padi-padinya yang menguning, air sungai yang mengalir jernih, riak ombak di lautan  yang membiru, putih berkilauan bagaikan ratna mutu manikam, gemah-ripah dan loh jinawi semua itu akan kau lihat dan saksikan sendiri, Tinggalanak!”

“Iya, aku mau dan gembira sekali dengan ajakkanmu emprit. Akan tetapi bagaimana dengan anak-anakku yang masih kecil-kecil itu? Mereka  masih membutuhkan belaian kasihku. Jika kau  memang serius menghendaki aku menjadi istrimu, tunggulah tiga bulan lagi agar anak-anakku sudah bisa mandiri untuk mencari makan sendiri”. Demikian jawab burung Mesir kepada burung emprit sambil tundukkan kepalanya lelu mengusap kedua anaknya dengan sayapnya.

“Jika demikian baiklah, aku akan menunggumu dengan sabar. Dan, aku akan kembali lagi kemari tiga bulan lagi. Sekarang aku akan berkeliling-keliling mengunjungi tempat-tempat yang belum aku kenal di negeri Mesir ini”.

Singkat cerita, tiga bulan pun telah berlalu tanpa terasa. Tiba saatnya burung emprit Jawa kembali menemui burung Mesir untuk mempersuntingnya dan mengajaknya pergi kembali ke negeri Jawa Dwipa Nusanantara. Ia pun segera mempercepat terbangnya menuju tempat tinggal burung Mesir dan  kedua anaknya.

Tak lama kemudian sampailah burung emprit di tempat hunian burung Mesir. Di sana ia melihat burung Mesir sedang mengawasi kedua anaknya yang yang melompat-lompat kian kemari dengan lincahnya di antara dahan dan ranting pohon. Rupanya kedua anaknya itu sudah mulai mampu terbang sendiri.

Burung emprit Jawa segera menghampiri burung Mesir. Sementara burung Mesir masih mengawasi kedua anaknya. Ia tak menyadari kalau di dekatnya sudah ada burung emprit yang segera menyapanya;

“Hai, Tinggalanak, selamat pagi! Wakh, rupa-rupaya kedua anakmu sudah besar dan sudah mampu terbang sendiri. Mereka nampak gagah dan cantik, sungguh sepasang burung tinggalanak remaja yang serasi”.

“Oh, kau rupanya. Sungguh aku tak melihatmu datang, Emprit! Ya, kedua anakku itu, yang pejantan memang gagah dan tampan mirip bapaknya  yang betina tentunya cantik mirip ibunya, pit, pit, pit, piiiiiiiiiiit! Begitu gembira burung Mesir dengan kehadiran berung Mesir hingga tertawanya begitu lepas. Akan tetapi suasana yang penuh suka cita dari burung Mesir tak berlangsung lama. Seekor ular hijau kecokelatan dengan warna kuning keemasan di kepalanya, yang memang sejak lama sudah mengitai mereka, tiba-tiba menyergap dari belakang. Dan itu sungguh tak disadarinya. Untung saja mereka cukup sigap dan cekatan sehingga mampu menghindari serangan dan terkaman ular hijau lapar yang buas dan berbisa itu. Akan tetapi naas bagi salah satu anak betina dari burung Mesir yang baru saja bisa terbang itu tak mampu menghindar terkaman sang ular hijau yang sedang kelaparan. Dan akhirnya, anak betina burung Mesir tewas seketika dimangsa oleh ular hijau. Sementara saudaranya yang pejantan nyaris juga menjadi mangsa. Ia masih bisa tertolong karena pada saat itu burung emprit datang menolongnya dengan mengeluarkan bunyi suara yang keras dan terdengar menyeramkam. Tinggallah sang induk, si burung Tinggalanak diam terpana tak percaya dengan apa yang terjadi. Salah satu anaknya yang betina dan cantik rupawan itu tewas mengenaskan di depan mata kepalanya sendiri. Ia menangis tersedu sedan menyesali nasibnya yang begitu sial. (Bersambung)

Penulis:
Slamet Priyadi di Kp. Pangarakan - Bogor
 

Sabtu, 04 Mei 2013

Dongeng Burung Emprit dan Burung Tinggalanak 1 Karya Slamet Priyadi diceritakan oleh Sita


Denmas Priyadi Blog | Minggu, 05 Mei 2013 | 09:22 WIB

Burung Emprit
Adik-adik, sudah lama kak Sita tidak bercerita lewat blog ini. Sekarang, kak Sita mau bercerita tentang seekor burung Jawa, namanya burung “Emprit” dan burung ”Tinggalanak” yang berasal dari negeri Mesir. Menurut ceritanya, burung emprit adalah jenis burung bertubuh kecil, berbulu hitam berkilauan. Konon menurut yang empunya cerita, burung emprit mampu terbang ribuan kilo meter jauhnya tanpa merasa lelah sedikitpun. Mirip dan beda sedikit dengan burung emprit yang bertubuh kecil adalah burung tinggalanak yang asalnya dari negeri Mesir. Burung tinggalanak juga berbulu hitam, hanya tubuhnya lebih kecil dibanding burung emprit. Yang unik dari burung tinggalanak adalah bunyi suaranya yang begitu menyayat. Terdengar sangat memilukan seperti perasaan orang yang sedang ditinggal mati oleh orang yang sangat dikasihinya. Bahkan  ada sebagian orang menyebutnya burung ini adalah burung syetan.

Bagi sebagian masyarakat di daerah Jawa terutama Jawa Tengah, Jawa barat dan masyarakat Jakarta, burung ini dipercaya burung pembawa berita kematian. Apabila sebuah kampung didatangi burung tinggalanak ini dan berbunyi berulang-ulang di kampung tersebut, itu suatu pertanda bahwa akan ada salah satu anggota keluarga di kampung itu yang akan meninggal dunia. Bahkan  ada sebagian orang menyebut burung tinggal anak ini dengan nama burung  burung syetan. Bunyi suara burung tinggal anak ini kalau didengarkan baik-baik seperti kata-kata dalam bahasa Jawa: “Pit...pit...pit...pit...pit... balikno Mesirrrr...!” Artinya kira-kira demikian, “prit, prit, prit... kembalikan saya ke Mesir”.

Nah, adik-adik! Kenapa bisa seperti itu? Tentu ini ada cerita yang melatarbelakanginya. Menurut cerita dari orang tua kakak, dulu ketika kakak masih kecil saat mau tidur, sering didongengkan berbagai macam cerita. Jika belum didongengkan kakak belum mau tidur. Salah satu cerita yang didongengkan itu adalah cerita dongeng burung emprit dan burung tinggalanak ini. Beginilah ceritanya!
 
Suatu ketika burung emprit mengembara ke negeri Mesir yang menurut kabar berita negeri tersebut memiliki hutan dan pepohonan yang sangat lebat. Begitu pula dengan hamparan persawahan yang luas, subur dengan padinya yang selalu menguning di setiap saat. Berita ini telah membuat hati burung emprit tergiur dan terpesona untuk pergi ke negeri Mesir. Maka tanpa berpikir panjang, apakah cerita itu benar atau tidak, tanpa basa-basi lagi terhadap sesama handai tolan dan keluarganya di Jawa, burung emprit pergi mengembara ke negeri Mesir untuk melampiaskan keingintahuannya tentang negeri yang kaya dan subur itu. Burung emprit pun segera terbang tinggi-tinggi, jauh melewati beberapa negeri, menyeberangi luasnya samudra.

Di setiap negeri yang disinggahi, Ia tak lupa bertanya kepada burung-burung yang berpapasan dengannya, dimana letak negeri Mesir itu. Suatu ketika ia berpapasan dengan seekor burung camar yang sedang melintas di atas laut negeri Malaysia,

“Wahai sobat, apakah sobat tahu di manakah letaknya negeri Mesir itu?”  Berkata burung emprit saat berpapasan dengan burung camar yang sedang terbang di atas samudra, laut negeri Malaysia
.
“Oh, anda terus saja terbang menuju arah utara! Negeri tersebut masih sangat jauh dari sini, tetapi anda jangan putus asa karena Mesir adalah negeri yang sangat makmur, begitulah cerita yang saya dapat dari burung-burung yang sudah pernah berkunjjung ke sana!” Demikian jawab burung camar yang dijumpainya itu.

Tentu saja mendengar jawaban yang senada dengan berita yang telah didapatnya di negeri  Jawa itu, membuat tekad sang burung emprit semakin kuat. Ia pun segera mengepakkan sayapnya lebih kuat lagi terbang ke arah utara menuju negeri Mesir.

Alkisah, negeri Thailand, Jepang, India bahkan negeri China telah dilaluinya. Singkat cerita, maka sampailah burung emprit di negeri Mesir. Akan tetapi yang dilihat di sana tidak seperti kabar yang didapat. Ia hanya melihat dataran luas dengan pepohonan yang terpisah-pisah, tak ada hamparan hutan dan persawahan dengan padi yang menguning seperti di negeri Jawa. Sang burung emprit terus masuk ke dalam lagi melintasi daerah perkotaan yang ramai dengan lalu lalang orang-orang mesir dengan segala aktivitasnya di sebuah pasar yang cukup ramai. Sang emprit Jawa terus kepakkan sayapnya. Tubuhnya yang lelah dan haus mulai mengganggu daya terbangnya. Akan tetapi ia tak putus asa, semangatnya untuk mencapai negeri Mesir dengan segala kemewahan dan kekayaan alamnya tidak membuat ia patah semangat. Dan, ia pun terus kepakkan sayapnya terbang melintasi kota-kota dan dataran luas di negeri Mesir.

Di suatu tempat yang nampak subur dengan sedikit ditumbuhi pepohonan dan sungai yang airnya begitu jernih, sang emprit melepaskan lelahnya. Ia bertengger di sebuah dahan pohon memakan buah yang ada di pohon itu. Sejenak kemudian ia menukik ke sungai untuk minum melepaskan rasa hausnya dan kembali bertengger di dahan pohon sambil kepalanya menoleh ke arah kiri dan kanan barang kali ada sebangsa burung lain di daerah itu.

Ketika ia sedang merenung dengan apa yang sudah dilakukan, pergi mengembara dari Jawa hingga sampai di negeri Mesir seperti ini, tiba-tiba datang mendekati seekor burung betina berbulu halus berwarna hitam mirip seperti dirinya yang tak sungkan-sungkan dan malu-malu langsung menyapanya dengan ramah dan sopan,

“Kawan, perkenalkan nama saya Tinggalanak, saya bertempat tinggal di pohon yang ada di seberang sana itu! Nampaknya anda burung asing di tempat ini, dari manakah asal negeri anda?” Tanya burung Mesir kepada burung emprit Jawa sambil memperkenalkan nama dan tempat tinggalnya.

“Oh, ya... ya...! burung Emprit Jawa menjawab agak tergagap karena ia tak menyangka ada jenis burung yang datang menghampiri dan langsung menyapanya dengan penuh keramahtamahan. Setelah menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri, lalu ia pun melanjutkan kata-katanya,

“Nama saya Emprit Jawa berasal dari negeri Jawadwipa di kepulauan Nusantara. Adapun kedatangan saya ke negeri Mesir ini karena saya terpesona oleh keindahan dan kemegahan serta segala kemewahan dan kesuburan akan alamnya yang saya dengar dari berita teman-teman saya yang pernah singgah di negeri anda ini!”

“Oh,begitukah? Jawab burung Mesir sedikit terperanjat, lalu meneruskan kata-katanya kembali, “tapi apakah malah bukan sebaliknya? Negeri andalah yang sudah terkenal ke peloksok negeri akan keindahan, kesuburan serta keramahtamahan penduduknya. Sungguh ketenaran negeri anda Jawa Dwipa Nusantara itu sudah sampai ke negeri kami, Mesir! Dan, sebagai tanda persahabatan kita, saya persilahkan anda untuk beristirahat sepuasnya di tempat hunian kami di pohon seberang itu! Burung Mesir dengan segala keramahtamahannya mempersilahkan burung emprit untuk singgah beristirahat di tempatnya.

Menerima tawaran persahabatan dengan segala keramahtamahan dan kebaikan dari burung Mesir, burung Emprit Jawa menjadi senang dan tak mau menghilangkan kesempatan yang baik itu. Maka ia pun menerima tawaran itu dengan perasaan suka cita lalu berkata kepada burung Mesir yang bernama Tinggalanak itu,

“Ya, ya, ya...Tinggal anak! Sungguh anda baik hati dan ramah sekali. Terus terang saya benar-benar merasa terpuji namun sedikit risih menerima persahabatan ini karena kita baru saja bersua di tempat ini”. Berkata burung Emprit Jawa sambil menatap mata burung Mesir yang bening itu.

“Mari Emprit, kita terbang ke pohon di seberang itu! Di sanalah tempat tinggal kami bersama kedua anak kami yang masih kecil-kecil”. Demikian ajak burung Mesir dengan terus terang kepada burung emprit Jawa sambil kepakkan sayap terbang menuju ke pohon sebelah, sementara emprit Jawa mengikutinya dari belakang.

Sebentar kemudian sampailah keduanya di tempat tinggal burung Mesir. Di sana nampak kedua anak dari burung Mesir yang masih kecil dengan bulu-bulunya yang mulai tumbuh menghiasi tubuhnya. Saat melihat kehadiran induknya, keduanya mencicit gembira dan langsung masuk ke dalam ketiak sayap ibunya.

“Nah, ini kedua anak kami! Usianya baru dua bulan, sebenarnya kami masih dalam suasana berduka karena tiga bulan yang lewat ayahnya telah meninggalkan kami, ia tewas tertembak tak disengaja oleh dua orang pemburu yang datang kemari berburu kuda Nil di sungai itu”. Dan kedua anak kami ini tak sempat melihat wajah ayahnya”.

“Oh, begitukah? Sungguh saya merasa prihatin dan empatik sekali dengan musibah yang telah menimpa keluarga anda, Tinggalanak. Akan tetapi, lalu bagaimana anda bisa menyusui kedua anak anda itu dengan tenang, sementara saya melihat tempat ini begitu sangat rawan bahaya dari bangsa ular pemangsa yang sewaktu-waktu bisa merayap ke pohon ini?”

“Sebenarnya itu salah satu yang menjadi pemikiran saya, Emprit Jawa”. Jawab burung Mesir sambil mempersilahkan kepada burung Emprit Jawa untuk menyantap buah-buahan yang masih bergantung di pohon tempat tinggalnya itu. Lalu melanjutkan pembicaraannya lagi, “Saya merasa, mungkin ini sudah menjadi nasib kami karena di luar sana pun belum tentu lebih aman dari tempat ini. Dan akhir-akhir ini malah lebih banyak para pemburu kuda Nil yang datang ke daerah ini. Belum lagi bangsa ular pemanjat dan burung pemangsa yang tubuhnya besar selalu memonitor kami di sini. Sungguh kami sangat mengkhawatirkan akan hal tersebut, terutama untuk kedua anak kami yang masih kecil ini”. Mendengar kata-kata seperti itu dari induknya, kedua anaknya semakin menelusupkan tubuhnya ke balik sayap induknya seakan mereka sudah mengerti dan faham dengan situasi dan keadaan yang terjadi dengan mereka.

Saat sedang asyik-asyiknya mereka berbincang-bincang, tak disadari oleh mereka bahwa ada seekor ular berwarna hijau kecokelatan dengan sisik berwarna kuning di kepalanya, merayap mendekati mereka mengintai kedua anak burung Mesir hendak memangsanya.  Untung saja burung emprit Jawa melihat ular itu. Ia memang sudah mewaspadai akan keadaan seperti ini yang sewaktu-waktu bisa terjadi menimpa keluarga burung Mesir. Ia pun berkata kepada burung Mesir dengan sikap yang lebih tenang agar burung Mesir dan anak-anaknya tidak gugup melihat dan menghadapi keadaan seperti ini,

“Tinggalanak, kau lihat itu! Seekor ular hijau kecokelatan yang bertubuh cukup besar  sedang merayap kemari. Sebaiknya mari  kita bawa kedua anakmu ke tempat yang lebih aman sebelum ular itu memangsa kita dan kedua anakmu yang masih kecil-kecil dan belum bisa terbang itu ke tempat yang lebih aman, ya ke pohon yang pertama saya singgahi tadi”. Dengan cepat burung emprit Jawa membawa salah satu dari kedua anak burung Mesir, sementara burung Mesir membawa anaknya yang satunya lagi. Mereka berdua terbang menuju pohon yang tadi disinggahi oleh burung emprit Jawa. Dan selamatlah jiwa mereka dari bahaya yang barusan mengancam dan hampir saja melenyapkan jiwanya.(Bersambung)
  
Penulis:
Slamet Priyadi di Kp. Pangarakan - Bogor

Jumat, 03 Mei 2013

Upacara Hardiknas di SMAN 42 Jakarta - Kamis, 02 Mei 2013 by Slamet Priyadi

  
Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara ( 1889-1959)

Denmas Priyadi Blog│Jumat, 03 Mei 2013│05:15 WIB


Disaksikan Kepala Sekolah, pasukan pengibar bendera berhasil melaksanakan tugasnya

Di pagi hari yang cerah Kamis, 02 Mei 2013 bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), seluruh guru dan karyawan SMA Negeri 42 mengenakan seragam KORPRI untuk melaksanakan upacara bendera memperingati Hari Pendidikan Nasional. Sebelumnya bapak dan ibu guru serta karyawan, sebelum melaksanakan upacara, terlebih dahulu diperkenankan untuk menikmati sarapan pagi berupa lontong sayur yang sudah dipersiapkan di ruang guru oleh pihak sekolah selaku penyelenggara upacara Hardiknas.

Sebelum upacara sarapan lontong sayur
Tepat pada pukul 7:00, bapak Kesabaran Wau selaku staf kesiswaan mengkoordinir siswa melalui pengeras suara menyerukan agar seluruh siswa kelas X dan kelas XI IPA maupun XI IPS agar berkumpul di lapangan untuk segera memulai pelaksanaan upacara. Tak lama kemudian, dengan dibantu oleh bapak dan ibu guru wali kelas serta guru-guru lainnya seluruh siswa pun berkumpul di lapangan, dan sementara para wali kelas mengabsen siswanya, bapak dan ibu guru membentuk barisan tersendiri. Berbaris rapi di sebelah kiri lapangan, tepat di depan ruang tata usaha. Dengan wajah penuh sumringah nampak para guru sangat gembira dan bangga dengan pakaian kebesarannya, seragam Korpri terbaru berwarna biru yang di pagi hari itu sudah mengharubirukan lapangan upacara bendera memperingati Hari Pendidikan Nasional.
 
PNS bangga dengan pakaian seragam KORPRI
Suara lantang petugas upacara pembawa acara pun berkumandang tanda upacara Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada hari Kamis, 02 Mei 2013  dimulai.  Terdengar derap langkah pasukan pengibar bendera yang begitu semangat melangkahkan kakinya, begitu kompak dalam satu irama, dan teratur penuh percaya diri. Disaksikan oleh kepala sekolah selaku Pembina upacara, Drs. H. Luthfi, MM, bapak dan ibu guru, staf, karyawan, serta para siswa kelas X dan kelas XI,  pasukan pengibar bendera melaksanakan tugasnya dengan baik menaikkan bendera Sang Saka Merah Putih ke angkasa bersamaan dengan lantunan lagu Indonesia raya yang dibawakan oleh kelompok paduan suara. Bendera Sang Saka Merah Putih pun berkibar dengan gagah perkasa menghias cakrawala persada langit di SMA Negeri 42 Jakarta.

Pengibaran Sang Saka Merah Putih diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya
Dalam pidatonya yang singkat, kepala sekolah selaku Pembina upacara berpesan kepada seluruh siswa agar penting dan tak bisa ditawar-tawar lagi untuk bersikap disiplin, tertib, patuh pada peraturan serta bersikap sempurna dalam mengikuti setiap upacara. Apalagi untuk upacara berskala nasional dalam rangka memperingati hari-hari besar nasional seperti Hardiknas, Hari Pendidikan Nasional.

Setelah kepala sekolah selaku pembina upacara selesai menyampaikan pidatonya kepada seluruh peserta upacara, maka tak lama kemudian berkumandanglah lagu-lagu perjuangan yang berkait dengan hari pendidikan nasional yang dibawakan oleh seluruh peserta upacara dengan iringan piano oleh Albert siswa kelas XI IPA. Adapun lagu-lagu yang dibawakan adalah “Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara”(ciptaan Slamet P), “Hymne Guru”, dan “Syukur” (ciptaan H. Mutahar).

Menyanyikan lagu Ki Hajar Dewantara, Hymne Guru, dan Syukur
Pada pukul 08:30 upacara memperingati Hari Pendidikan Nasional Kamis, 02 Mei 2013 selesai. Siswa diperbolehkan kembali ke rumahnya masing-masing karena pada hari itu kegiatan belajar mengajar ditiadakan. Kecuali untuk siswa-siswi yang mengikuti even olah raga, seni, dan karya ilmiah. Sedangkan bapak dan ibu guru bersenam gembira, berolah raga di lapangan dengan antusias dengan gerak dan liuk tubuh yang benar-benar indah penuh irama penyegaran.

Olah raga bersama dengan senam berirama
Dengan berolah raga badan sehat, segar, dan bercahaya
Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara
Berkait dengan dilaksanakannya upacara memperingati Hardiknas di jajaran Kemendikbud pada tanggal 2 Mei setiap tahun, tentu hal ini perlu kita cermati agar pelaksanaan hardiknas tersebut menjadi penuh hikmah dan bermakna serta bermanfaat dalam membentuk etika dan moral bangsa sebagaimana ajaran Ki Hajar Dewantara yang penuh dengan nilai-nilai  pembangunan karakter bangsa itu.  Khususnya bagi para pemimpin dan guru selaku pendidik yang selalu digugu dan ditiru, dan yang memiliki peran sebagai “kunci pembuka pintu keberhasilan” siswa dalam proses mencari ilmu dan keterampilan sebagai bekal kehidupannya di kelak kemudian hari.

Jadi makna dari peringatan Hari Pendidikan Nasional yang dilakukan setiap tahun pada dasarnya adalah agar kita selaku pemimpin atau pendidik mampu mengamalkan ajaran-ajaran Ki Hajar Dewantara dalam perilaku kehidupan sehari-hari, yaitu:




1.    Ing Ngarso Sung Tulodo
     Di depan menjadi contoh suri tauladan yang baik.

2.    Ing Madyo Mangun Karso
Di tengah menjadi tempat bertanya, mampu mencarikan jalan keluar, mampu   membangkitkan karsa.

3.    Tut Wuri Handayani
     Di belakang menjadi pendorong, dapat memberikan penyemangat dan motivasi.
 
Demikianlah, Selamat Hari Pendidikan Nasional Kamis, 2 Mei 2013!

Penulis:
Slamet Priyadi di Kp. Pangarakan - Bogor

"KARYA SISWA DAN GURU": Upacara Hardiknas di SMAN 42 Jakarta - Kamis, 02 M...:   Denmas Priyadi Blog│Jumat, 03 Mei 2013│05:15 WIB Disaksikan Kepala Sekolah, pasukan pengibar bendera berhasil melaksanakan...