Sabtu, 02 Februari 2013

Adab Terhadap Orang Tua By Slamet Priyadi

Denmas Priyadi Blog | Minggu, 03 Febuari 2013 | 06:53 WIB

“Berbaktilah kepada ibu dan bapakmu karena sesungguhnya pahala yang paling besar adalah berbakti kepada orang tua.”

Orang Tua wajib dihormati oleh anak
Berbakti kepada orang tua merupakan keharusan dan kewajiban bagi seorang anak, baik selama mereka masih hidup maupun sesudah mereka telah tiada. Berikut adalah adab atau tata cara berbakti kepada orang tua:

1. Mencintai, mengasihi,dan menyayangi mereka dengan sepenuh hati.
    Sebagus dan sejelek apapun orang tua, bagi seorang anak tetap harus mengasihi danmenyayanginya dengan sepenuh hati. Hal ini oleh karena begitu besarnya kasih sayang orang tua kepada anak-anaknya  semenjak dari dalam kandungan hingga dewasa bahkan sepanjang hayatnya.

2. Mendengarkan segala nasehat-nasehatnya.
    Hormatilah kedua orang tua dengan mendengarkan segala nasehat-nasehatnya dan mematuhi segala perintahnya  yang tidak bertentangan dengan ajaran agama.

3. Membahagiakan dan menyenangkan hatinya.
    Perlakukanlah kedua orang tua dengan sikap yang baik yang dapat membahagiakan hatinya. Jangan sekali-kali membuat hatinya bersedih dan menagis karena sikap kita yang kasar kepadanya. Berikan mereka kebahagiaan sebagaimana mereka membahagiakan kita dari semenjak kita lahir. Menyenangkan dan membahagiakan hati orang tua merupakan kebajikan yang utama dari seorang anak.

4. Mencium tangannya setiap saat.
    Hendaknya seorang anak mencium tangan orang tua setiap saat baik diwaktu pagi, sore dan malam hari sebagai tanda hormat kita kepada orang tua.

5. Tunjukkan wajah dengan senyum dan berseri.
    Tampakkanlah wajah anda dengan wajah yang berseri-seri tidak cembetut meskipun hati kita dalam keadaan gundah, karena muka yang masam dan cembetut akan membuat hatinya sakit dan bersedih. Tentunya orang tua akan senang dan gembira jika melihat anaknya selalu menampakkan muka yang berseri.
Sikapilah dan pandanglah mereka dengan cinta kasih yang tulus dan lemah lembut.

6. Selalu mendakannya sepanjang waktu.  
    Seyogyanya seorang anak selalu memohon doa restu kepada orang tua setiap akan melakukan sesuatu aktifitas. Hal ini karena doa dan restu dari orang tua bisa jadi merupakan kunci sukses keberhasilan dari seorang anak dalam meniti karirnya.

8. Tidak mengungkit-ungkit pemberian. 
    Hindarilah untuk mengungkit-ungkit jasa atau pemberian yang sudah diberikan kepada orang tua baik berupa jasa ataupun materi. Jelasnya, jangan menyebut-nyebut kembali segala kebaikan yang sudah diberikan kepada orang tua karena perbuatan seperti itu berarti tidak ada keikhlasan sama sekali dan ini bisa membuat hati orang tua bersedih. Bagi seorang anak, apabila adab berbakti kepada orang tua dilakukan dengan baik dan dengan penuh keikhlasan, Insya Allah akan mendapatkan keutamaan dan keberkahan dari Allah, Amien!!!            

Penulis
Slamet Priyadi
       

Menyambut Anak Sepulang Dari Sekolah (Renungan Seorang Bapak) By Slamet Priyadi



Denmas Priyadi Blog | Sabtu, 02 Febuari 2013 | 10:50 WIB
Image "Keluarga Slamet" (Foto: SP)
Keluarga Slamet
SETIAP ORANG TUA tentu mempunyai problem psikologis tersendiri. Setelah seharian melepas energinya untuk mencari nafkah buat keluarganya. Dalam situasi dan kondisi yang demikian orang tua tentunya sangat memerlukan satu suasana keluarga yang harmonis. Setiap suami tentunya membutuhkan suasana yang menyejukkan dan membahagiakan.
Sementara kita sebagai orang tua baik sebagai ibu atau suami terkadang dalam menyambut anak sepulang sekolah suka menyambut anak dengan pertanyaan-pertanyaan menyangkut prestasi yang diperolehnya di sekolah: " Jagad! Bagaimana hasil ulangannya di sekolah dan, berapa nilai ulangan matematiknya?” Bentuk pertanyaan semacam itu menurut saya adalah sunguh kurang bijaksana diucapka kepada anak saat pulang dari sekolah.

Seyogyanya yang dilakukan orang tua bukanlah mengajukan pertanyaan-pertanyaan demikian tetapi yang dapat menyejukkan pikiran dan perasaan anak. Anak-anak sepulang dari kegiatan belajarnya di sekolah yang mungkin saja menghadapi berbagai kemungkinan menghadapi berbagai kemungkinan pengalaman yang terkadang tidak menyenangkan apakah itu berupa pengalaman waktu didamprat gurunya karena monyontek, bertengkar dengan temannya, dan lain-lain tentunya membutuhkan perkataan yang dapat menyejukkan perasaan hatinya .

Menghadapi suasana semacam itu Sebaiknya sebaiknya orang tua mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang baik seperti: "Nampaknya kau lelah sekali nak, lekaslah kau cuci mukamu itu dan terus makan!” atau perkataan seperti ini, “Peluhmu bercucuran, panas sekali ya, cuacanya?”
Pernyataan atau pertanyaan-pertanyaan seperti tersebut kiranya dapat menciptakan suasana yang menyejukkan dan menimbulkan ketenangan perasaan dan pikiran si anak sepulang dari sekolah. Dan bagi anak, pernyataan-pernyataan yang demikian merupakan sambutan dan ajakan kepada si anak untuk beristirahat menghilangkan lelah dan menghilangkan ketegangan jiwanya setelah belajar di sekolah. Ungkapan seperti itu merupakan sambutan yang diberikan oleh orang tua yang bijak dan penuh perasaan kasih sayang dan kehangatan cinta yang mendalam kepada anak. (Referensi: Drs Dewa Ketut Sukardi. “Bimbingan Perkembangan Jiwa Anak”. Ghalia Indonesia: Jakarta 1987)
Penulis
Slamet Priyadi

Mengapa Anak Suka Berbohong By Slamet Priyadi


Denmas Priyadi Blog | Sabtu, 02 Febuari 2013 | 08:15 WIB
Arjun dan Jayeng
Besar kemungkinan anak suka berbohong dikarenakan orang tua sering melarang anaknya untuk mengatakan sesuatu kejadian atau peristiwa yang memang benar-benar terjadi. Dalam arti anak sesungguhnya ingin mengatakan sesuatu yang benar akan tetapi oleh karena alasan tertentu, orang tua melarang anaknya untuk mengatakan sebenarnya. Sebagai gambaran ilustrasi, “Suatu ketika secara terus terang Jagad mengatakan kepada ibunya, bahwa adiknya yang bernama Jayeng pernah dicubitnya sampai menangis karena sering menggangu saat ia sedang belajar”. Mendengar keterusterangan kata-kata dari Jagad anak pertamanya itu, sang ibu justru dengan sangat marah malah memarahinya bahkan menampar kedua pipinya. Perlakuan ibunya yang dirasakan tidak adil ini tentu membuat Jagad menjadi kecewa, meskipun atas tindakan ibunya itu dia tidak melakukan reaksi melawan, dia hanya diam.

Pada peristiwa berikut, saat Jagad sedang belajar mengerjakan pekerjaan rumah, PR dari gurunya di sekolah, adiknya Jayeng datang menggangunya kembali akan tetapi Jagad membiarkan saja meskipun di dalam hatinya ia sangat kesal dan mendongkol. Pada saat itu ibunya datang dan Jagad berkata pada ibunya, bahwa ia sangat mencintai dan mengasihi adiknya, Jayeng. Oleh karena itu dia tidak marah lagi kepada adiknya meskipun sudah mengganggu belajarnya saat mengerjakan pekerjaan rumah. Mendengar penuturan Jagad  ibunya langsung merangkulnya dan mencium kedua pipinya, “Nah, begitulah! Kamu harus sayang kepada adikmu Jayeng”. Ya, Jagad  terpaksa berkata bohong kepada ibunya agar tidak kena marah lagi, karena berkata yang benar justru ia mendapat marah dan tamparan.

Nah sobat, dari  gambaran peristiwa di atas bisa ditarik suatu kesimpulan bahwa berbicara benar membuat seorang anak seperti Jagad, justru malah mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan, merasakan kesakitan, dicubit bahkan ditampar oleh ibunya, sedangkan dengan berkata bohong mengatakan yang bukan sebenarnya mendapatkan sesuatu yang menyenangkan.  Tentu pengalaman itu mengajarkan kepada anak bahwa ibu ternyata lebih menyukai kepada anaknya yang berbohong.  Hal seperti inilah yang acap kali dikeluhkan oleh seorang ibu karena anak-anaknya sering berbohong.  Orang tua terutama seorang ibu sering kali menyalahkan anak-anaknya yang sering kali berbohong.  Padahal secara tak disadarinya, kelakuan dan sikap anak untuk berbicara bohong itu akibat dari prilaku dan tindakannya sendiri dalam menyikapi suatu kejadian di dalam keluarga yang berkait dengan anak-anaknya itu. Dan kesukannya untuk bicara bohong dari anak-anaknya itu secara tak disadari oleh orang tua merupakan cermin dari hasil didikannya sendiri.

Bohong adalah berbicara yang tidak sebenarnya dan itu dilalakukan dengan sengaja yang bertujuan untuk memperdayakan orang lain.  Dengan kata lain berbohong meliputi tiga factor, yaitu:

  1. Berbicara tidak dengan sebenarnya
  2. Dilakukan dengan  sengaja
  3. Bertujuan untuk memperdaya orang lain
Nah, apabila orang tua menginginkan anaknya berkata dan bersikap jujur dan tidak berbohong, mulailah dari sekarang untuk mau menerima penjelasan dan kata-kata yang disampaikan oleh anak. Dengarkanlah terlebih dahulu sampai anak selesai mengungkapkan isi hatinya. Jelasnya orang tua harus bersedia mendengarkan dan menerima sesuatu baik yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan, mau menerima suatu kebenaran baik kebenaran baik maupun buruk yang dinyatakan oleh seorang anak. Jangan sampai anak merasa takut untuk mengungkapkan isi hatinya karena pada umumnya anak sangat memperhatikan reaksi orang tua terhadap ekspresi perasaannya. Sikap dan reaksi-reaksi dari orang tuanya itu yang akan menjadi pijakan atau keputusan yang diambil anak, apakah ia akan bersikap jujur atau berbohong. Jika orang tua  menghukum anaknya yang sudah berkata sebenarnya, jujur dan tidak berbohong, tentunya seorang anak akan termotivasi untuk berbohong sebagai tindakan bela diri atau pertahanan diri. (Referensi: Drs. Dewa Ketut Sukardi. “Psikologi Populer” Ghalia Indonesia. Jakarta 1987)

Penulis
Slamet Priyadi

Jumat, 01 Februari 2013

"MEMBATIK" By Slamet Priyadi


Membuat motif batik dengan canting
MGMP SENI SMAN 42 - JUMAT, 12 OKT. 2012 - Membatik berdasarkan tujuannya dibedakan atas membatik sebagai kegiatan seni murni (pure art), dan membatik sebagai kegiatan kerajinan.  Adapun berdasarkan  teknik pembuattannya dibedakan atas batik tulis dan batik cap. Membatik dengan tujuan seni murni adalah cara membatik untuk membuat lukisan dengan teknik batik tulis. Sedangkan membatik sebagai kegiatan kerajinan adalah cara membatik dengan tujuan untuk membuat benda pakai (applied art), seperti membuat selendang, kain, kemeja, dan lain-lain.

 Bahan dan alat yang dipersiapkan untuk membatik antara lain:

      1. Sehelai kain katun dengan ukuran menurut keperluannya
      2. Canting
      3. Bingkai kayu untuk membentangkan kain
      4. Kompor kecil dan wajan untuk mencairkan lilin
      5. Lilin hitam dan kuning
      6. Pensil untuk menggambar motif batik  
Wajan dan kompor untuk cairkan lilin (malam)
Kain, rak, dan bingkai  bahan dan alat untuk membatik
Canting
 
          Langkah-langkah cara membuatnya:
               1.  Cuci kain batik sampai bersih dari kotoran debu atau kanji jika yang dipakai kain yang masih    baru lalu dijemur sampai kering benar.
    2. Bentangkan kain yang sudah bersih dan kering tadi pada bingkai agar mudah menggambarinya dengan motif batik yang dikehendaki
          3.  Buat gambar rencana motif batik dengan pensil yang lunak sehingga motifnya jelas.
         Lalu gambar rencana tadi digoreskan dengan cairan lilin dengan menggunakan canting. Bisa juga dengan menggunakan kuas.
5        4.  Warnai kain dengan cairan penyelup kemudian cucilah kain tersebut dengan air tawar
6      5. Lepaskan (lorot) lilin dari kain sampai benar-benar hilang tidak ada yang tertinggal atau menempel di kain.
Jika menghendaki warna lebih dari satu, bisa mengulang kembali langkah ke-5 sampai ke-8
 
    Penulis
    Slamet Priyadi


Mengembangkan Rasa Kasih Sayang Pada Anak By Slamet Priyadi


Denmas Priyadi Blog | Jumat, 01 Febuari 2013 | 10:05 WIB

Kasih Ibu Sepanjang Hayat
KASIH SAYANG merupakan kebutuhan psikis yang paling mendasar dalam proses hidup dan kehidupan manusia dari sejak lahir hingga dewasa terutama pada diri ANAK. Apabila anak tidak pernah atau kurang merasakan kasih sayang dari orang tuanya maka tidak bisa dipungkiri itu akan menimbulkan penderitaan batin pada diri anak tersebut yang pada akhirnya dapat mengakibatkan kesehatan badan anak terganggu, tingkat kecerdasan berkurang, dan biasanya sikapnya menjadi keras kepala dan nakal.

Jika anak merasa tidak disenangi oleh orang tuanya, oleh masyarakat, di mana anak itu hidup, ia akan merasa sedih, kecewa dan gelisah.  Oleh karena itu orang tua sudah seharusnya dalam mendidik, membimbing, dan dalam membesarkan anak-anaknya agar terlebih dahulu dapat memahami perkembangan jiwanya.

Orang tua dengan cara yang baik, positif dan kreatif memberikan berbagai macam gambaran,  umpan balik,memberikan semangat, dorongan dan motivasi sesuai dengan harapan dan cita-cita mereka. Orang tua, guru  harus dapat membantu memberikan jalan keluar dalam setiap masalah yang dihadapi anak. Membantu anak-anak agar dapat mencintai, mengasihi, dan menyayangi orang-orang lain, mencintai, mengasihi dan menyayangi khewan bahkan kepada dan alam lingkungan. (Sumber : Psikologi Populer / Drs Dewa Ketut Sukardi)

Penulis
Slamet Priyadi

Syekh Siti Jenar Versi Serat Negara Kertabumi By Slamet Priyadi


Image "Syeh Siti Jenar"  (Foto: SP)

Jumat, 17 Agustus 2012-Denmas Priyadi Blog:  Cerita eksekusi Syeh Siti Jenar versi Serat Negara Kertabumi berbeda dengan versi-versi lain yang biasa kita baca dan saksikan dalam buku-buku maupun film. Hal ini sebagaimana suntingan Rahman Sulendraningrat dalam buku "Siti Jenar-Cikal Bakal Faham Kejawen" tulisan YB. Prabaswara, halaman 32-34:

   
"Seperti juga versi Jawatengahan, sastra Kacirebonan ini menceritakan bahwa para pengikut Syeh Siti Jenar di Cirebon merupakan kelompok oposisi atas kekuatan kasultanan Cirebon. Beberapa tokoh pimpinan kelompok ini pernah mencoba untuk merebut tahta tapi tak pernah berhasil. Ketika Pengging dilumpuhkan, Syeh Siti Jenar yang pada waktu itu menyebarkan ajarannya di sana kembali ke Cirebon dan diikuti oleh para pengikutnya dari Pengging. Di sini, kekuatan Syeh Siti Jenarmenjadi kokoh, pengikutnya meluas dan menyebar sampai ke desa-desa. Setelah Syeh Datuk Kahfi wafat, Sultan Cirebon meminta Pangeran Punjungan untuk menjadi guru agama Islam di Amparan Jati. Pangeran Punjungan bersedia, tetapi ia tidak mendapat murid karena orang-orang sudah menjadi murid Syeh Siti Jenar termasuk Panglima bala tentara Cirebon, Pangeran Carbon. Dijaga oleh para murid-muridnya sangat setia itu, Syeh Siti Jenar aman tinggal di Cirebon. Berita ini sampai ke telinga Sultan Demak, bahwa musuhnya berada di Cirebon. Sultan Demak lalu mengutus Sunan Kudus disertai 700 prajurit menuju Cirebon.  Sultan Cirebon  menerima permintaan Sultan Demak dengan tulus, bahkan memberi bantuan untuk tujuan itu.

Langkah pertama Sultan Cirebon adalah mengumpulkan para murid utama Syeh Siti Jenar  antara lain, Pangeran Carbon, para Kyai Geng, Ki Palumba, Adipati Cangkuang, dan beberapa orang istana Pangkuangwati. Selajutnya bala tentara Cirebon dan Demak bergerak menuju Padepokan Syeh Siti Jenar di Cirebon Girang. Syeh Siti Jenar kemudian ditangkap dan dibawa ke Masjid Agung Cirebon untuk diadili. Di Masjid Cirebon banyak para ulama  telah berkumpul. Sunan Gunung Jati bertindak sebagai hakim ketua. Melalui perdebatan yang panjang, pengadilan memutuskan bahwa Syeh Siti Jenar bersalah besar, dan pengadilan memutuskan bahwa Syeh Siti Jenar mendapat hukuman mati. Selang beberapa waktu, akhirnya Syekh Siti Jenar dieksekusi mati oleh Sunan Kudus dengan keris pusaka Sunan Gunung Jati. Peristiwa ini terjadi pada bulan Safar, tahun 923 H atau 1506 Masehi. 

 Mayat Syeh Siti Jenar lalu dimakamkan di suatu tempat yang tidak diketahui.  Akan tetepi lama kelamaan  orang dapat mengetahui  tempat tersebut. Merekapun terutama para pengikut dan murid-murid Syeh Siti  Jenar,  berdatangan  berziarah ke makam  Syeh Siti Jenar. Para peziarah itu ada yang datang dari Cirebon, Jakarta, Banten, Parahiyangan,  Jawa Timur, dan bahkan dari Semenanjung Malaya. Melihat kenyataan ini Sunan Gunung Jati  memerintahkan kepada segenap kawulanya agar memindahkan secara diam-diam mayat Syeh Siti Jenar ke suatu tempat yang sangat dirahasiakan.  Mayat Syeh Siti Jenar diganti dengan bangkai seekor anjing hitam. Pada waktu para peziarah, terutama pengikut dan murid-murid Syekh Siti Jenar menghendaki agar mayat Syekh Siti Jenar dipindahkan ke Jawa Timur. Makampun digali kembali, apa yang terlihat? Ternyata mayat Syekh Siti Jenar tidak ada yang ada hanyalah bangkai seekor anjing hitam. Para peziarahpun sangat terkejut, haran dan tidak mengerti mengapa mayat Syeh Siti Jenar berubah menjadi bangkai seekor anjing hitam. Mereka beranggapan kalau mayat syekh Siti Jenar telah berubah menjadi seekor anjing. Menyikapi keadaan seperti ini sultan Cirebon kemudian mengeluarkan instruksi agar para peziarah, dan para pengikut ajaran Syeh Siti  Jenar tidak  menziarahi bangkai seekor anjing dan segera meninggalkan ajaran Syeh Siti Jenar  yang sesat”.

Tanggapan:

Menyikapi tindakan yang dilakukan Sunan Gunung Jati mengganti mayat Syekh Siti Jenar dengan bangkai seekor anjing, jika itu memang benar, malah justru mengangkat derajat Syekh Siti Jenar, dan itu tak ada salahnya. Menurut sebagian sufi, anjing bukanlah khewan nista, najis dan diharamkan bahkan sebaliknya malah dihormati. Hal ini sebagaimana yang dilakukan, “Husain ibnu Manshur Al-Hallaj” seorang tokoh sufi yang menjadi inspirasi lahirnya ajaran Syekh Siti Jenar di Jawa. Beliau adalah seorang tokoh yang sangat menghormati anjing, diceritakan Fariduddin Aththar:

            “Suatu ketika, Sekh Abdullah Turugbadi dari kota Thus menggelar taplak, dan makan roti bersama murid-muridnya ketika Manshur Al-Hallaj tiba dari kota Qasymir  berpakaian qaba’hitam sambil membawa dua ekor anjing hitam yang dirantai. Syekh berkata kepada murid-muridnya, ‘seorang lelaki muda yang berpakaian seperti ini akan segera datang, bangkitlah kalian semua, dan temui, karena dia melakukan hal-hal yang besar.’

            “Merekapun keluar untuk menjumpai lelaki itu yang bukan lain adalah Husain ibnu Manshur Al-hallaj dan segera membawanya masuk. Setelah menghampirinya, Syekh segera mempersilahkan tempat duduk kepada Al-Hallaj sambil membawakan 2 ekor anjingnya untuk ikut makan di dekat mejanya. Tuan Syekh melihat Al-Hallaj makan roti dan memberi makan roti pula kepada anjing-anjingnya itu.  Ketika Al-Hallaj berpamit untuk kembali, tuan Syekh segera beri untuk mengucapkan selamat jalan. Setelah Al-Hallaj pergi, murid-murid tuan Syekh bertanya, ‘Mengapa tuan Syekh membiarkan orang semacam itu, yang makan bersama annjing-anjingnya, duduk di tempat tuan Syekh, seorang pengembara yang kehadirannya membuat seluruh makanan kita tidak suci lagi?” Tuan Syekh menjawab dan memberikan penjelasan kepada murid-muridnya:

            “Anjing-anjing itu sebenarnya lambang keakuan (nafsu), mereka tinggal diluar dirinya, dan berjalan disisinya, sementara anjing-anjing kita masih berada dalam diri kita, dan kita mengikuti di belakangnya.”

            Itulah perbedaan antara seseorang yang mengikuti anjing dan orang yang diikuti anjing. Anjing-anjingnya berada di luar, dan kalian dapat melihat mereka, sementara anjing-anjing kalian tersembunyi berada di dalam hati kalian, dan kalian tak bisa melihatnya. Kedudukan orang itu seribu kali lebih tinggi dari kedudukan kalian. Dia telah berada dalam  tataran ajaran Tuhan, sifat-sifatnya telah menyatu dengan Tuhan, apakah ada seekor anjing atau tidak, dia hanya ingin mengarahkan segala tindakannya itu dengan  apa yang diperintahkan Tuhan.”

            Anjing digambarkan sebagai symbol arakter yang harus dikeluarkan dari diri manusia. Karena menjadi symbol, maka anjing akrab dengan kehidupan para sufi, termasuk Al-Hallaj dan bisa jadi demikian pula dengan Syekh Siti Jenar yang diumpamakan seperti anjing. Dalam kisah di zaman Rasulullah, ada seorang pelacur masuk syurganya Allah karena dia dengan ikhlas menolong seekor anjing yang sedang kehausan. (Referensi: YB.Prabaswara, Siti Jenar Cikal Bakal Kejawen. Penerbit Armedia-Jakarta.)   

Penulis
Slamet Priyadi