Sabtu, 06 April 2013

2 Buah Puisi karya Slamet Priyadi



Denmas Priyadi Blog│Minggu, 07 April 2013│11:50 WIB

Puisi "AKANG" Karya Slamet Priyadi


Akang
Karya Slamet Priyadi

Akang…
Sudah tiga warsa ini akang tak pernah lagi kasih kabar berita
Dan di sini aku semakin gundah gulana
Kerana anak-anak kita selalu menanyakan akang
Kapan ayah pulang, Ma… ayah kapan pulang ?

Akang…
Sudah tiga warsa lebih lima bulan ini
Pun akang masih jua tak mau beri kabar berita lagi
Sedangkan aku dan anak-anak kita di sini
Selalu terombang-ambing dalam ketidakpastian
Dalam kekhawatiran, dalam kesedihan, dalam ketakutan
Dan dalam penantian yang berkepanjangan
Sedangkan pertanyaan-pertanyaan itu
Pun tak pernah mendapatkan jawaban

Akang…
Sedang apakah akang di sana?
Apakah negeri yang akang singgahi sekarang lebih jelita?
Apakah keelokjelitaan itu telah membelenggu akang?
Sebab begitulah warta yang telah aku terima, kang

Akang…
Jika itu memang benar-benarlah adanya
Aku akan berupaya ikhlas menerima
Meskipun hati ini begitu sangat terluka
Perih terkoyak duka dan kecewa
Aku akan jalani hidup ini dengan penuh ketawakalan
Bersama anak-anak kita meraih cita-cita 'tuk bekal masa depan
Dan aku akan selalu mendoakan
Semoga akang selalu mendapatkan kebahagiaan  

Pangarakan, 07 April 2013



Magi Sangit
Karya Slamet Priyadi

Burung Emprit terbang melayang melintas bukit
 Nun jauh di sana di atas langit,
Ada mantra menebarkan magi-magi sangit,
ba' virus penyakit yang terus tak henti menggigit
Timbulkan rasa sakit
Dan tubuh pun lemas tiada daya tak bisa lagi bangkit.

Pangarakan, 6 April 2013
 
  

Keluarga Yang Demoratis By Slamet Priyadi



Denmas Priyadi Blog│Minggu, 07 April 2013│06:06 WIB

Jayeng dan Ibu (Foto: SP)
KELUARGA yang demokratis adalah keluarga yang mengutamakan prinsip kebebasan dengan menjalankan prinsip demokrasi dalam segala aspek aktifitas rumah tangga. Orang tua secara konsisten betul-betul menghormati dan menghargai anak sebagai individu yang utuh secara lahir batin, tidak sedikitpun berkeinginan mengarahkannya secara otoriter. Anak diberi kesempatan untuk berkembang secara mandiri dan mengambil keputusan sendiri, dan mengupayakan kemerdekaannyasendiri. Adapun cirri-ciri keluarga yang demokratis adalah a. orang tua menghormati dan menghargai pribadi anak secara utuh; b. Orang tua selalu berupaya mengembangkan kepribadian anak dan menganggapnya sebagai pribadi yang memiliki potensi dan kemampuan untuk mengembangkan dirinya secara mandiri; c. Orang tua memberi kesempatan kepada anak untuk berpikir, berekspresi, berkreasi dan memilih jenis pekerjaannya sendiri secara bebas tanpa paksaan sedikitpun. Akan tetapi, kebebasan yang diberikan masih dalam koridor kebaikan bersama dan dalam tujuan-tujuan yang bersifat umum tentunya. Dalam kata lain, kebebasan yang diberikan bukan tanpa batas, melainkan dibatasi dengan rammbu-rambu sosial dan syariat agama yang harus dilakoni oleh anak.

Dengan demikian keluarga yang demokratis itu sangat kental dengan nuansa kebersamaan, membangkitkan dan menimbulkan hal-hal positif, dinamis dan terus bergerak dalam suasana harmonis penuh kasih sayang serta saling membantu di antara anggota keluarga. Pola sketsa yang diterapkan dalam rumah tangga atau keluarga yang demokratis tentunya akan memotivasi lahirnya anak-anak yang mampu menopang beban dan tanggung jawab kehidupan. Juga anak-anak ideal yang sanggup berpikir secara sehat, saling menolong dan bangkit bersama-sama dengan lingkungan masyarakat.
  
Penulis:
Slamet Priyadi di Pangarakan-Bogor      

Jumat, 05 April 2013

Mengenang Sang Sutradara H. Usmar Ismail (1921-1971) By Slamet Priyadi


Denmas Priyadi Blog│Jumat, 05 April 2013│20:20 WIB
H.Usmar Ismail (1921-1971)

H.Usmar Ismail dilahirkan di daerah perbukitan elok nan indah, Bukit Tinggi - Sumatra Barat pada 20 Maret 1921. Latar belakang pendidikannya: HIS, MULO (B), AMS A-II, dan mendapat gelar B.A. bidang sinematografi pada Universita California di Los Angeles. 

Sepak terjang, karir, dan pengalaman beliau  dalam berkesenian terutama film tercatat gemilang.  Tahun 1942-1945 anggota staf pengarang pada Pusat Kebudayaan Jakarta; tahun 1949 menyutradarai film South Pacific Corp; tahun 1962 mendapat penghargaan Hadiah Seni dan penghargaan tertinggi Piagam Wijayakusuma; Tahun 1943-1945 beliau juga ketua Perkumpulan Penggemar Sandiwara Maja; 1946-1947 Ketua PWI; 1946-1948 Ketua Badan Permusyawaratan Kebudayaan Indonesia Yogyakarta dan Ketua Serikat Artis Sandiwara Yogyakarta; 1955-1965 Ketua Akademi Teater Nasional Indonesia; 1955-1970 Ketua PPFI (Persatuan Perusahaan Film Indonesia); 1962-1969 Ketua Umum Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (LESBUMI) Jakarta. 
 
Adapun karya-karya beliau adalah: Harta Karun (1949), Citra, The Long March, Enam Jam di Djogya (1950), Dosa Tak Berampun (1951), Terimalah Laguku (1952), Kafedo, Krisis (1954), Tiga Dara (1956), Delapan Penjuru Angin, Sengketa (1957), Asrama Dara, Pejuang (1959), Laruik Sanjo (1960), Amor dan Humor (1961), Toha Pahlawan Bandung Selatan, Anak Perawan di Sarang Penyamun, Bayangan di Waktu Fajar(1962), Anak-Anak Revolusi (1964), Liburan Seniman (1965), Ja Mualim (1969), The Big Village dan Ananda (1970). 
   
Pada tanggal 2 Januari 1971 Sang Sutradara besar H.Usmar Ismail meninggal dunia dengan meninggalkan warisan karya-karya besar yang hingga kini tetap dikenang dan menjadi motivator, pendorong semangat dan inspirasi bagi dunia perfilman kita. 

Penulis  
Slamet Priyadi di Kp. Pangarakan - Bogor    

Rabu, 03 April 2013

Dua buah Puisi Karya Edi Pujianto



Denmas Priyadi Blog | Kamis, 04 Maret 2013 | 11:30 WIB

4 Sekawan Kabut Halim 1976
Terima Kasih Tuhan
Karya Edi Pujianto

Terima kasih Tuhan
Engkau telah berkenan memelihara hidupku dan keluargaku
Di pagi yang indah ini
Engkau juga berkenan membangunkan aku
Dengan tubuh yang segar dan sehat

 Engkau juga telah perkenankan aku
Untuk mengenang masa-masa indah
Masa yang tak mungkin terulang lagi

Terbayang masa-masa indah dulu
Saat di SMA Negeri 14 Filial Halim Pedanakusuma
Tempat aku berkiprah
Tempat aku membentuk jati diri
Tempat aku mengenal arti persahabatan
Ilmu dan Cinta
Tuhan, rupanya semuanya sudah kau atur

Tuhan Engkaulah kekuatanku
Sejak dulu hingga sekarang
Ampuni dosa-dosaku
Dan berkatilah teman-temanku
Baik yang berhasil mau pun yang tidak berhasil
Bahkan kini sahabat karibku
Telah menjadi guru seni rupa
Menggembleng adik-adik generasiku

Terimakasih, terimakasih Ya, Tuhan…..
 Engkau telah mengubah lebih baik lagi
Tempat aku dulu berkiprah
SMA Negeri 14 Filial Halim Perdanakusuma
menjadi SMA Negeri 42 Jakarta
Terimakasih Tuhan… Terimakasih Tuhan

Banyumas, 04 April 2013

 Kenangan Sahabat Pena
Karya Edi Pujianto

Waktu begitu cepat berlalu,
ketika dering SMS sadarkan aku,
Bahwa aku punya sahabat pena
ya... aku punya sahabat pena

Akh, Pangkalpinang...Pangkalpinang
Kenangan aku pun melayang waktu di SMA dulu
Bibirku merekah, tersenyum sendiri
bayangan masa lalu seperti bayangan di cermin yang ada di sisiku

Tiba-tiba pintu rumahku diketuk
Akh, ada tamu rupanya
bayangan di cermin pun buyar
yakh, bayangan sahabat penaku

Banyumas, 24 Maret 2013

Posted:
Slamet Priyadi di Kp. Pangarakan - Bogor