Senin, 11 Februari 2013

"Sangkan Paraning Dumadi" By Slamet Priyadi



Denmas Priyadi Blog│Selasa, 12 Febuari 2013│12:15 WIB 

Denmas Priyadi
UntukApa, Dari Mana, Kemana Manusia Lahir dan Hidup ?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut di atas, tentunya setiap ajaran agama mempunyai jawabannya masing-masing sebagai mana yang terdapat di dalam kitab suci agamanya, baik Islam( Al- Qur'an), Kristen(Injil), Hindu, Budha maupun ajaran Kejawen. Bagi sebagian besar masyarakat Jawa yang masih menganut Kejawen menjawab pertanyaan "Untuk apa tujuan hidup?", "Dari mana dan hendak ke mana manusia lahir dan hidup?"(Sangkan Paraning Dumadi), jawabannya tentu akan bersifat filosofis oleh karena ajaran Kejawen sendiri tidak mempunyai kitab suci yang menjadi acuan dalam menyikapi prilaku kehidupan. 

Berkait dengan Sangkan Paraning Dumadi Budayawan Jawa yang sekaligus juga seorang dalang wayang kulit terkenal, Ki Narto Sabdo dalam pergelaran wayang kulitnya mengungkapkan melalui tembang “Dhandanggulo” yang menggambarkan tentang pandangan orang Jawa mengenai awal dan akhir hidup manusia. Untuk apa manusia hidup, dari mana dan hendak ke mana manusia hidup dan dilahirkan. Berikut adalah tembangnya,

Kawruhono sejatining urip
Manungso urip ono ing dunyo
Porosasat mung mampir ngombe
Umpomo manuk mabur
Oncat sangking kurunganeki
Ngendi pencobenyang
Ywo kongsi kalirunanti
Umpomo wong lungo sanja
Njan sinanjan nora wurung mesthi mulih
Mulih mula-mulanya

Ketahuilah perihal hidup sejati manusia di dunia
Manusia hidup di dunia itu
semisal singgah hanya untuk minum
Bagai burung yang terbang lepas
tinggalkan sangkarnya
dimana nanti hinggap janganlah keliru,
semisal orang bertandang,
saling tengok toh akhirnya harus pulang,
pulang ke asal mula.


Jadi menurut pandangan Kejawen hidup manusia di alam dunia ini hanya sementara saja, singgah sebentar  hanya untuk makan dan minum. Oleh karena itu hidup di dunia yang fana ini disebut "Alam Madya" yaitu alam tengah yang terletak antara "Alam Purwa" dan "Alam Wasana". Dan hidup ini berasal dari “Alam Mulanira” yang akan kembali ke “Alam Wasana”. Jelanya, Tembang Dhandanggulo menggambarkan atau menceritakan dari mana asal manusia dan segala makhluk di dunia. Dan  segala yang ada di alam ini sesungguhnya semuanya itu ada yang mengadakan, dan menciptakan yaitu Sang Maha Pencipta Alam Semesta, Tuhan Yang Maha Agung. Itulah “Asalmula”, dan itu pula tujuan akhir dari semua yan ada. 

Penulis
Slamet Priyadi di Pangarakan - Bogor

Sabtu, 09 Februari 2013

Arjuna Larikan Dewi Wara Sumbadra



Slamet Priyadi | Sabtu, 09 Febuari 2013 | 15:37 WIB

Arjuna dan Dewi Wara Sumbadra
DENMAS PRIYADI BLOG – Kasus kawin lari yang biasanya terjadi pada sepasang remaja yang sedang dilanda kasmaran, dan kisah cintanya tidak direstui oleh orang tua atau keluarganya, rupanya bukan saja terjadi pada kisah klasik Qais dan Laila ataupun Romeo dan Juliet akan tetapi juga terdapat dalam cerita pewayangan yang usianyapun sudah berabad-abad itu.

Dalam cerita pewayangan, kasus kawin lari  dilakukan oleh Arjuna ketika hendak mempersunting Dewi Wara Sumbadra, adik dari Raja Dwaraka Prabu Betara Kresna dan Prabu Baladewa di Mandura. Beginilah ceritanya!  

Diceritakan, Arjuna menjalani hukuman selama sepuluh tahun dan hidup di hutan, Arjuna sekali waktu berkunjung ke Kerajaan Mandura yang pada saat itu diperintah oleh Raja Dwaraka, Prabu Betara Kresna dan kakaknya Prabu Baladewa. Kunjungan Arjuna ini diterima dengan perasaan senang dan penuh kesukacitaan oleh Prabu Betara Kresna. Pada saat yang bersamaan kebetulan sedang ada keramaian yaitu berupa hajatan besar di gunung Raitawaka.  Para pembesar kerajaan yang diundangpun banyak yang hadir di sana, termasuk Prabu Betara Kresna, Prabu Baladewa dan adiknya Dewi Wara Sumbadra serta  Kesatriya Penengah Pandawa Raden Arjuna yang diajaknya pula.  Ketika itu Arjuna yang memang sedikit mata keranjang melirik, menatap takjub ke wajah Dewi Wara Sumbadra yang begitu cantik serta berpenampilan anggun sekali.  Ditatap seperti itu oleh Sang Arjuna, Dewi Wara Sumbadra yang memang sebelumnya sudah tertarik dengan kegagahan dan ketampanan Arjuna menjadi tersipu malu, dan  hatinya berdegup kencang, berdebar-debar.

Melihat dan menyaksikan kejadian ini Sang Betara Kresna tersenyum saja karena sesungguhnya ia sudah mengetahui kalau Arjuna sangat tertarik pada adiknya, Dewi Wara Sumbadra. Tak lama kemudian diutarakanlah kepada Arjuna bahwa adiknya hanya bisa dikawinkan dengan kesatriya yang tangguh dan mumpuni yang bisa diandalkan untuk melindungi adiknya dan bangsa Yudawa pada umumnya.

Mendengar penuturan Betara Kresna  Arjuna sangat senang karena hal tersebut berarti dirinya memenuhi syarat untuk menjadi suami Dewi Wara Sumbadra, kemudian Arjuna mengutarakan isi hatinya yang ingin mempersunting Dewi Wara Sumbadra itu kepada Betara Kresna. Atas persetujuan Betara Kresna, maka diaturlah rencana secara diam-diam tanpa sepengetahuan Prabu Baladewa untuk melarikan Dewi Wara Sumbadra sepulang dari hajat besar di gunung Raitawaka saat mengendarai kereta berkuda. 

Pendek cerita, pada waktu dan tempat yang sudah direncanakan dan ditentukan antara Arjuna dan Betara Kresna, di tengah perjalanan yang cukup sunyi, secara tiba-tiba Arjuna melarikan Dewi Wara Sumbadra. Kereta yang dinaiki Dewi Wara Sumbadra dilarikannya dengan kencang sekali. Hal tersebut telah membuat para pengiring dan para pengawal  terkejut kaget oleh karena tak menyangka kalau itu dilakukan oleh seorang kesatriya semacam Arjuna.

Melihat dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri tingkah polah  Arjuna itu, bangsa Yudawa dan Prabu Baladewa teramat berang, dan segera memerintahkan kepada para pengawalnya untuk mengejar kereta yang dilarikan oleh Arjuna tersebut sampai dapat dan Arjuna harus dihukum untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. 

Betara Kresna yang memang pengatur dan perencana proses penculikan itu, dan sudah mengenal betul dengan watak kakaknya, Prabu Baladewa yang pemarah dan berangasan segera berupaya meredam kemarahan Prabu Baladewa,

“Kanda Prabu Baladewa! Bangsa Yudawa memang sangat terinjak-injak martabatnya atas tingkah polah Arjuna itu, dan kita pasti tidak akan tinggal diam jika melihat anak, adik perempuannya, serta saudara, dan keluarganya sampai diperlakukan secara tidak hormat serta direndahkan martabatnya seperti ini.  Akan tetapi bukankah dinda Wara Sumbadra sendiripun menyukai Arjuna dan menginginkan seseorang yang berwatak kesatriya, tampan dan  gagah perkasa seperti Arjuna, dan itu berarti sama pula dengan apa yang kita inginkan bersama untuk jodoh dinda Wara Sumbadra. Sudah berulang kali kita mengadakan sayembara, akan tetapi setiap saat kita akan mengadakan sayembara tersebut, saat itu pula mendapat rintangan dan kegagalan.  Baru kali inilah ada yang berani dan Arjuna telah mengingatkan kita, apabila Arjuna bukanlah kesatriya yang kita idam-idamkan bersama, mana mungkin dia berani melakukannya kepada kita”. Mendengar penuturan dari rayinya, Prabu Betara Kresna yang cukup beralasan dan memang ada benarnya, amarah  Prabu Baladewa menjadi redup dan menyetujui dengan apa  yang sudah diutarakan oleh rayinya itu.

Singkat cerita, akhirnya Arjuna dipanggil kembali oleh Prabu Betara Kresna dan Prabu Baladewa untuk dikawinkan dengan adiknya Dewi Wara Sumbadra. Setelah mereka dikawinkan, Arjuna tinggal di negeri Dwaraka hidup bahagia bersama istrinya Dewi Wara Sumbadra yang sangat dicintainya itu. Dari perkawinannya dengan Dewi Wara Sumbadra itu Arjuna dikaruniai seorang anak yang diberi nama Raden Abimanyu.

Pustaka
Wayang dan Karakter Manusia, Sri Guritno – Purnomo Soimun HP – Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata – Jakarta 2002

Penulis
Slamet Priyadi di Pangarakan - Bogor

Jumat, 08 Februari 2013

Berdirinya Kerajaan Indraprasta



DENMAS PRIYADI BLOG | SABTU, 09 FEBUARI 2013 | 08:10 WIB
Pandawalima
Diceritakanlah ketika  Dewa Agni yang menyamar sebagai brahmana meminta bantuan kepada Sri Kresna dan Arjuna yang pada saat itu sedang asyik mengobrol sambil menikmati indahnya panorama alam di tepian sungai Yamuna. Adapun bantuan yang diinginkan oleh Dewa Agni kepada Sri Kresna dan Arjuna adalah membakar hutan Kandawa yang dilindungi oleh Batara Indra. Karena menurut petunjuk yang diperolehnya setelah bersamadi memohon petunjuk pada Hyang Brahma, bahwa yang bisa menolong Dewa Agni untuk membakar hutan Kandawa untuk mencari sejenis tumbuh-tumbuhan bernama Latamausadi yang terdapat di hutan tersebut, adalah Narayana dan Nara yang telah menjelma kepada Sri Kresna dan Arjuna.

            “Wahai sang Nara dan Narayana yang sakti mandraguna, terus terang saya sangat membutuhkan pertolongan tuan-tuan untuk mendapatkan Latamausadi di hutan Kandawa, oleh karena menurut petunjuk Sang Batara Brahma, hanya tuan berdualah yang sanggup membantu saya untuk membakar hutan Kandawa yang dilindungi oleh Batara Indra itu!” Pinta Batara Agni kepada Arjuna dan Sri Kresna.

Mendengar penuturan yang penuh harap dari Dewa Agni, akhirnya Arjuna dan Sri Kresna mengabulkan permintaan Dewa Agni. Tak lama kemudian, dengan bantuan dan perlindungan dari Arjuna dan Sri Kresna, Dewa Agni membakar hutan Kandawa sampai luluh lantak, habis terbakar semua dalam waktu tidak lebih dari satu setengah bulan. Menurut cerita hanya tersisa enam penghuni hutan yang selamat dari amukan dan kesaktian senjata Arjuna dan Sri Kresna mereka adalahdi, raksasa Maya, Aswasena, dan empat ekor burung Sarngaka.
 
            “Wahai tuan-tuan sang Nara dan Narayana yang sakti mandraguna, tuan-tuan telah banyak menolong saya, berbuat sesuatu untuk membantu saya mendapatkan Latamausadi. Tanpa bantuan tuan-tuan berdua tentu saya tak bisa membakar hutan Kandawa yang sedemikian luas, dan tidak mungkin berhasil mendapatkan Latamausadi, oleh karena itu mintalah kepadaku, apa saja yang tuan-tuan inginkan sebagai balas budi saya kepada tuan-tuan?!”  kata Dewa Agni kepada Arjuna dan Sri Kresna dengan sungguh-sungguh.

            “Baiklah!  Arjuna Menjawab, “Jika demikian, berikanlah kepada kami berdua semua senjata sakti yang dimiliki Batara Indra!”

Dewa Agni menyanggupi dan mengabulkan permintaan Arjuna sambil berkata, 

            “Kalian berdua adalah harimau di antara manusia. Ke mana saja kalian pergi, kalian akan seperti harimau!” Dewa Agni pun menghilang dari pandangan Arjuna dan Sri Kresna.   

Selanjutnya Arjuna dan Sri Kresna melanjutkan perjalanannya, hanya raksasa Maya yang diajaknya serta menemani pengembaraannya. Ketika sampai di tepi sungai Yamuna yang elok nan permai itu, mereka beristirahat untuk melepaskan lelah. Pada saat itu raksasa Maya sambil membungkuk berkata kepada Arjuna, 

            “Tuanku Arjuna, karena tuan telah menyelamatkan hamba dari panasnya amukan api di hutan Kandawa, maka katalah kepada hamba, apa yang tuan inginkan dari hamba?”

            “Sudahlah, Maya! Jangan kamu pikirkan itu, sekarang kamu bebas untuk pergi sesuka hatimu, akan tetapi ingatlah! Kamu harus bersikap baik dan ramah kepada semua orang”. Jawab Arjuna kepada raksasa Maya.

            “Tuanku Arjuna, katakanlah sekali lagi! Apa yang tuan inginkan dari hamba, terus terang hamba ini orang yang ahli dalam hal bangunan”. Desak raksasa Maya kepada Arjuna.

            “Maya, terus terang aku sama sekali tidak mengharapkan balas budi apapun darimu. Perkataanmu bahwa aku telah menyelamatkanmu, itu sudahlah cukup. Akan tetapi jika engkau mendesak tentu aku tidak akan menolak, sekarang tanyakanlah kepada kanda Sri Kresna!” Arjuna mengulangi pernyataanya kepada raksasa Maya.

Mendengar ini Sri Kresna tak menyia-nyiakan kesempatan ini, segera ia menghampiri raksasa Maya kemudian berkata sambil berbisik di telinga Maya, 

            “Bagunlah sebuah istana yang megah dan indah di Indraprasta ini, yang kemegahannya dan keindahannya tidak ada yang menyamai dan di seantero muka bumi ini”.
 
Raksasa Maya yang memang ahli dalam membuat bangunan, dengan segala kesaktiannya segera membangun sebuah istana yang indah dan megah di Indraprasta. Dalam waktu satu tahun dua bulan, di Indraprasta telah berdiri sebuah istana kerajaan yang begitu indah dan megah yang keindahan dan kemegahannya tidak ada yang menyamai bahkan tidak kalah keindahannya dengan istana para dewa-dewa sekalipun. Untuk merayakan upacara penyerahan istana kerajaan Indraprasta, Sri Kresna menyarankan kepada ke Lima Pandawa  agar terlebih dahulu menaklukkan kerajaan-kerajaan yang dahulunya acapkali jenindas dan menjajah negeri-negeri lain yang berada di sekitar Indraprasta. Ke lima tokoh Pandawa menerima saran Sri Kresna, maka merekapun saling berbagi tugas, Yudistira menjadi raja di Indraprasta, Bima menaklukkan negeri-negeri yang berada di sebelah Timur, Arjuna menanklukkan negeri-negeri yang berada di sebelah Utara, Nakula menaklukka negeri-negeri yang berada di sebelah Barat, Sadewa menaklukkan negeri-negeri yang berada di sebelah Selatan.

Setelah berhasil menaklukkan negeri-negeri yang berada di daerah sekitar Indraprasta, ke lima tokoh Pandawa bersama Sri Kresna mengadakan upacara syukuran dan selamatan untuk memuliakan kraton Indraprasta dengan rajanya yaitu Yudistira putera tertua dari Pandawa Lima. Banyak dari para raja-raja sekitar yang hadir pada perayaan upacara berdirinya kerajaan Indraprasta yang indah dan megah tersebut, tek terkecuali raja dari para Kurawa negeri Astina, Prabu Duryudana dan patih Sangkuni. Mereka rata-rata semuanya berdecak kagum akan keindahan dan kemegahan Indraprasta. (Referensi: Sri Guritno-Purnomo Soimun HP, “Karakter Tokoh Pewayangan Mahabarata”. Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata - JAKARTA 2002)

Penulis
Slamet Priyadi

“WAYANG KULIT BETAWI” By Slamet Priyadi


DENMAS PRIYADI BLOG | MINGGU, 09 FEBUARI 2013 | 06:50 WIB
Pentas Wayang Kulit
SEKITAR tahun tujuhpuluhan ketika saya masih remaja, saya pernah menonton pergelaran wayang kulit di daerah Lubang Buaya, Jakarta Timur. Pada waktu itu saya belum mengetahui kalau kesenian wayang yang saya tonton tersebut adalah Wayang Kulit Betawi, karena setahu saya pada waktu itu wayang adalah bentuk kesenian masyarakat jawa, terutama Jawa Tengah, tempat saya berasal. Hal ini baru saya ketahui kemudian bahwa wayang yang saya saksikan tersebut Wayang Betawi setelah saya menikmati pergelaran wayang kulit tersebut sampai selesai.  Ternyata wayang yang saya tonton tersebut berbahasa Indonesia dengan disana-sini dihiasi dengan dialek khas Jakarta, penuh humor dan sedikit dialog penuh canda antara dalang dan para nayaga. 

Wayang Kulit Betawi yang saya saksikan tersebut dimainkan oleh seorang dalang yang pada waktu itu namanya sudah cukup dikenal oleh masyarakat setempat bernama, Bonang. Dari pengalaman tersebut di atas telah menggelitik saya untuk mengetahui lebih jauh tentang kesenian Wayang Kulit Betawi.
Wayang Kulit Betawi adalah suatu pertunjukan wayang yang menggunakan boneka-boneka terbuat dari kulit kerbau dan penerapan permainan pertunjukannya masih secara Jawa.  Diiringi seperangkat musik gamelan dengan gendang pencak menjadi musik yang dominan dalam mengiringi gerak wayang disertai tembang-tembang Sunda yang mendayu-dayu dinyanyikan oleh para pesinden.

Dalam pertunjukan Wayang Kulit Betawi sama dengan pertunjukan wayang  Jawa, dalang menggunakan sekotak wayang kulit dan delapan orang pemain musik gamelan yang berperan sebagai pengiring pertunjukan wayang.

Di wilayah Lubang Buaya, Cijantung,  Pasar Rebo, dan sekitarnya, Dalang Bonang merupakan satu-satunya dalang yang permainan wayangnya melebihi dalang-dalang lain seangkatannya, konon bahkan dia melebihi  gurunya sendiri, Pak Misan yang terlebih dahulu mengundurkan diri sebagai dalang Wayang Kulit Betawi.

Wayang Kulit Betawi termasuk salah satu bentuk kesenian tradisional daerah Jakarta yang sampai sekarang masih digemari masyarakat setempat.  Hal ini terbukti pada setiap pertunjukan di daerah-daerah sekitar Jakarta selalu ada partisipasi penonton, terlihat dari adanya dialog antara dalang dan penonton, dalang dan salah satu  pemain gamelan. Mereka saling sahut-menyahut dengan dialog “nguda rasa”(bicara dengan diri sendiri).
 
Musik pengiring Wayang Kulit Betawi adalah seperangkat gamelan yang terdiri kromong 10 nada, Demung 7 nada, 2 saron dengan 5 nada, dua ketuk, satu kempul dan satu gong.  Sebagai pembawa melodi lagu adalah instrument rebab atau bisa juga oleh pesinden. Adapun musiknya berlaras Slendro. Sumber cerita Wayang Kulit Betawi bermacam-macam, bisa dari cerita rakyat seperti si Jampang, dari cerita komik, atau dari cerita wayang yang sudah ada maupun cerita karangan. [Referensi : Pertumbuhan Seni Pertunjukan – Prof. Dr. Edi Sedyawati]       

Penulis
Slamet Priyadi

Rabu, 06 Februari 2013

Ajaran Sabda Palon by Slamet Priyadi


Denmas Priyadi Blog | Kamis, 07 Febuari 2013 | 11:45 WIB
SABDA PALON merupakan sebuah "KITAB KUNO" yang berisi ajaran-ajaran moral untuk mencapai MANUSIA SEJATI. Adapun untuk untuk mencapai hal tersebut manusia harus mengamalkan JANJI GANTHARWA yaitu:

1.MENGUTAMAKANKEMANUNGGALANDALAM GANTHARWA
   Dalam hal ini manusia harus selalu mengingat Tuhan, selalu mempunyai keinginan untuk menyatu dengan Tuhan, menyatu dengan sifat-sifat Tuhan yang maha pengasih, maha bijaksana sehingga prilakunya akan mencerminkan sifat-sifat Tuhan, penuh kasih,adil, jujur, bijaksana, tidak tamak, tidak serakah, tidak sombong dan lain-lain. Manunggal dengan sifat-sifat Tuhan ALLAH yang berwujud manunggal atau menyatu pula prilakunya itu dengan sesama makhluk hidup, manusia, khewan dan alam.

2. MENINGKATKAN KAWRUH DAN LAKU
    Dalam hal ini tak ada istilah kata "berhenti" dalam "belajar" karena dalam pandangan orang yang telah mencapai tahapan ini "orang yang pintar adalah orang yang terus menerus mau belajar" dan kemudian mengamalkan, mempraktekkan segala sesuatu yang sudah didapatkan dalam belajarnya itu untuk kebaikan terhadap sesama, tanpa pamrih penuh dengan keikhlasan dalam melakoninya.

3. TEKUN DAN SETIA
    Artinya orang yang telah mencapai tahapan ini akan mempunyai sikap yang kosisten dan berkomitmen tinggi dengan apa yang sudah dimilikinya dan diyakininya. mempunyai dedikasi dan loyalitas yang tinggi dalam mengamalkan yang semata-mata hanya untuk keikhlasan dan keridhoan dari Tuhan ALLAH.

Apabila manusia sudah dapat mencapai dan melakoni ke tiga JANJI GANTHARWA tersebut maka di dalam dirinya, di dalam jiwanya akan bersemayam kuat moralitas jiwa yang SUGIH TANPA BONDO, SAKTI TANPA AJI, NGLURUK TANPA BOLO, MENANG TANPA PEPERANGAN, APA YANG DIINGINKAN DAN SEGALA APA YANG DIKEHENDAKINYA AKAN SEGERA TERWUJUD.

Penulis
Slamet Priyadi

Sedikit Tentang Kejawen by Slamet Priyadi


Denmas Priyadi Blog | Kamis, 07 Febuari | 11:15 WIB
KEJAWEN adalah kebudayaan Jawa asli yang merupakan sinkretisme antara kepercayaan kuno dengan ajaran agama yang datang kemudian seperti Hindu, Budha, Islam, dan Kristen. Diantara campuran tersebut yang paling dominan adalah ajaran agama Islam. Membahas masalah Kejawen tentunya tidak terlepas dengan istilah-istilah Manunggaling Kawulo Gusti, Sedulur Papat Lima Pancer, Sangkan Paraning Dumadi, ngeruwat, tapa brata, dan lain-lain.

Drs Susilo menyimpulkan tentang Kejawen adalah sebagai berikut:

* Kejawen adalah sinkretisme yaitu percampuran agama Hindu-Budha- Islam. Meskipun demikian ajaran Kejawen masih mengacu dan berpegang teguh pada ajaran tradisi Jawa asli sehingga masih nampak ciri-cirinya yang khas dan kemandiriannya.

* Agama menurut faham Kejawen adalah Manunggaling Kawula Gusti yaitu bersatunya hamba dengan Tuhan. Oleh sebagian kalangan Islam putih kaum santri, konsep penyatuan manusia dengan Tuhan ini mengarah kepada penyekutuan Tuhan atau prilaku Syirik.

* Perspektif ajaran Kejawen berdimensi tasauf percampuran antara kebudayaan Jawa, Hindu, dan Budha yang kurang menghargai aspek syariat dalam arti yang berkait denngan hukum-hukum hakiki agama Islam.

* Raja adalah pemuka agama. Hal ini nampak dari penggunaan atau pemakaian gelar "Sayidina Panatagama", "Khalifatullah", "Ajaran agama ageming aji" ( perhiasan ) raja, karena itu harus disesuaikan dengantradisi Jawa.

* Kitab Mahabarata dan Ramayana merupakan sumber inspirasi ajaran Kejawen yang mengandung ajaran moral dan karakter prilaku tuntunan hidup.

* Tinjauan kajian pikiran Jawa lebih terfokus pada aspek indra batin dan prilaku batin. Strategi pendekatan Kejawen adalah mencari pendekatan kepada Tuhan bahkan selalu ingin menyatu dengan Tuhan
(Manunggaling Kawula Gusti) dan analisanya bersifat batiniah.

Penulis
Slamet Priyadi

Selasa, 05 Februari 2013

Mengenal Ajaran Syeh Siti Jenar by Slamet Priyadi



Denmas Priyadi Blog | Senin, 05 Febuari 2013 | 20:20 WIB
Image "Syeh Siti Jenar" (SP)
DALAM sejarah perkembangan agama Islam di Jawa yang disebarkan oleh para Wali Songo tidak lepas juga membahas salah satu wali yang ajarannya dianggap nyeleneh dan keluar dari ajaran Islam yaitu "Syeh Siti Jenar".

Syeh Siti Jenar merupakan sosok yang sangat cerdas dan terkenal karena ketinggian ilmunya. Ia mempunyai murid-murid , antara lain Ki Ageng Pengging, Ki Ageng Tingkir, Ki Kebo Kenongo,dan lain-lain. Di perguruannya itu, Syeh Siti Jenar mengajarkan ilmu beraliran "Wahdatul Wujud" (kesatuan wujud) dengan melakukan ijtihad (kesatuan mutlak).

Penggambaran ajaran ijtihadnya itu mengumpamakan "Api dengan nyalanya, laut dengan ombaknya, dan bunga dengan sari madunya". Perumpamaan ini mengingatkan kita dengan ajaran tasaub Ibnu Arabi (tahun 1165-1240 Masehi) dan Al Hallaj (tahun 858-922 Masehi).
Syeh Siti Jenar juga dikenal dengan nama Syeh Lemah Abang bergelar "Prabu Satmata" atau raja yang tampak oleh mata. Ajaran Syeh Siti Jenar Manunggaling Kawulo Gusti sampai sekarang masih berpengaruh bagi aliran kebatinan Kejawen di Indonesia.

Ungkapan "mati sajroning ngurip", menurut Syeh Siti Jenar adalah mengajak manusia agar senantiasa "eling dan waspada", bersahaja, mengendalikan diri, mengurangi kenikmatan badaniah duniawi, bersedia lara samsara, tapa brata dan bersyukur meski dalam keadaan sulit. Perjuangan hidup di alam maya nan fana menurut Serat Bima Suci, berkait erat dengan upaya untuk memahami sangkan paraning dumadi, asal dan tujuan kehidupan yaitu husnul khatimah menuju perjalanan hidup yang membahagiakan.

Di dalam faham Kejawen (ngelmu), sangkan paraning dumadi adalah proses untuk menggapai kesempurnaan hidup yang bisa diperoleh hanya melalui laku atau prilaku ikhlas, bersyukur dan prihatin. Berkait dengan hal tersebut dalam kitab suci penganut mistik Kejawen "SERAT WIRID" masih terbagi lagi dengan "Asaling Dumadi" asal mula suatu wujud, "Sangkaning Dumadi" dari mana dan bagaimana arah perkembangan wujud itu, "Purwaning Dumadi" permulaan suatu wujud, "Tataraning Dumadi" martabat suatu wujud, "Paraning Dumadi" arah perkembangan suatu wujud.(Referensi: Sudirman Teba, "Syeh Siti Jenar: Pengaruh Tasauf Al-Halaj di Jawa". Bandung, Pustaka Hidayah 2003).

Penulis
Slamet Priyadi